SEAN-- “Dok, beneran nih, nggak mau ikut lihat anak-anak??” Kuangkat wajah, lalu menoleh ke arah pintu masuk. Kepala dokter Ana menyempul di ambang pintu. Aku meringis. “Bukan nggak mau, Dok. Tapi, nggak bisa,” jawabku jujur. Seandainya saja aku tidak diberhentikan secara sepihak, atau kasarnya … dipecat, tentu saja aku sudah akan pergi ke sekolah itu. Aku merindukan anak-anak. Sungguh. Aku melihat dokter Ana menghembuskan napas panjangnya. Dokter cantik yang hari ini mengenakan dres lengan pendek dengan panjang selutut itu, akhirnya menghela langkah masuk ke dalam ruanganku. Ia berjalan menghampiriku. Menarik kursi di depanku, kemudian mendudukinya. “Mereka belum mengambil keputusan,” buka dokter Ana. Aku diam. Hanya balas menatap sepasang mata cantik di seberang meja. “Soal peng

