Suasana ruang tamu mewah itu mendadak mencekam saat Nathaniel melangkah masuk dengan aura yang begitu gelap. Wajahnya yang kaku dan mata yang memerah karena sisa tangis semalaman membuatnya tampak seperti malaikat maut yang tak berperasaan. Di sana, Shenina terlihat duduk bersama kedua orang tuanya, sedang menyesap teh seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Dan begitu melihat Nathaniel, Shenina langsung berdiri dengan senyum manis yang dulu selalu berhasil meluluhkan Nathaniel. “Nath? Kamu datang? Kenapa tidak memberi kabar kalau mau ke sini?” tanya Shenina manja, ia melangkah mendekat hendak menyentuh lengan Nathaniel. Namun, Nathaniel menghindar dengan kasar, membuat Shenina terhuyung dan hampir teejatuh. Ia melirik sekilas cincin pertunangan di jari manisnya sendiri. Cincin yang ena
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


