“Jo?” suara di seberang terdengar lembut, namun tetap dengan jarak yang tak pernah benar-benar hilang. “Bagaimana kabarmu, Sayang?” “Aku baik, Ma,” jawab Joceline singkat. “Kamu sudah makan?” Pertanyaan itu sederhana. Basa-basi yang selalu digunakan ibunya, seolah lima tahun lalu tidak pernah ada apa-apa yang terjadi di antara mereka. Belum sempat Joceline menjawab, Emmeline kembali bicara, “Ayah dan Mama merindukanmu, Jo. Kalau kamu tidak keberatan… makan malam di rumah, ya? Kita belum sempat berbicara sejak kepulangan kamu kembali ke Indonesia.” Joceline terdiam, ia tidak langsung menjawab. Pandangannya kosong, pikirannya mundur jauh ke masa lalu, ke lima tahun silam saat ia bukan hanya mengecewakan Nathaniel, tetapi juga kedua orang tuanya. Hubungannya dengan Nathaniel kala itu buk

