07. Pria Tukang Marah-Marah

1288 Words
Meeting pertama itu berakhir dengan penjadwalan ulang, masih berkutat pada satu hal yang sama yaitu konsep pelaminan. Joceline memijit pelipisnya perlahan. Kepalanya berdenyut halus, bukan karena diskusi yang terlalu panjang, melainkan karena hal-hal kecil yang seharusnya tidak lagi mengusik hidupnya. Ia masih berada di ruangan itu bersama Maxime, sementara Nathaniel dan Shenina sudah pergi sejak beberapa menit lalu. Meninggalkan sisa udara yang terasa lebih berat dari sebelumnya. Maxime menghampirinya. Ia menarik satu kursi kosong dan duduk tepat di samping Joceline. “Akan lebih baik kalau kamu mengakhiri ini sekarang juga, Jo,” ucapnya pelan, tanpa berputar-putar. “Kamu tidak perlu melibatkan diri terlalu jauh.” Joceline menurunkan tangannya dari pelipis, lalu menatap meja di hadapannya sebentar sebelum tersenyum tipis. “Aku sudah berjanji pada Shenina, Max.” Suaranya tenang, nyaris meyakinkan. “Lagipula, hal seperti tadi wajar terjadi saat mengurus pernikahan, bukan? Jadi, it’s okay.” “Jo.” Ia menatap Joceline lekat, setengah lelah dengan pendirian wanita itu. Tidak, lebih tepatnya keras kepala. “Aku merindukannya, Max. Aku hanya ingin melihatnya. For the last time.” Sebelum dia menikah. “Banyak cara, Jo.” “Aku tahu.” Joceline tersenyum pahit. “Tapi kamu tahu aku tidak punya cukup waktu. Dan melibatkan diri adalah satu-satunya cara untuk bisa terus melihatnya.” Maxime menatapnya lama, seakan mencoba membaca setiap retakan yang Joceline simpan rapi selama ini. Bahkan di saat seperti ini, wanita itu lebih memilih cara yang sulit dibanding mendatangi Nathaniel dan mengatakan segalanya. Ia tahu pilihan Joceline bukan tanpa alasan, namun sampai kapan ia harus terus mengutamakan kebahagiaan orang lain dibanding kebahagiaannya sendiri? “Oke, fine.” Maxime menyerah. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara singkat. “I follow your rules.” “Tapi, Jo.” Matanya menatap serius wanita di hadapannya. “Kalau kamu memang mencintainya, akui itu. Meski hanya sekali di hadapan Nataniel. Sebelum semuanya terlambat.” Max menunggu, berharap Joceline akan berkata iya, atau setidaknya mempertimbangkannya. Namun, Joceline tetaplah Joceline. Wanita itu tetap dengan diamnya dan Max sangat hafal apa artinya. Jadi, Max berdiri, membenarkan kancing kemejanya satu per satu lalu menatap Joceline sekali lagi. “Aku harus ke kantor sekarang. Kalau ada apa-apa, segera telepon aku.” Joceline ikut berdiri. Ia meraih dasi Maxime, merapikannya dengan gerakan yang cukup cekatan. “Berhentilah menganggapku anak kecil, Max,” ucapnya lembut. “Aku sudah bilang untuk tidak terus-menerus merepotkanmu. Ingat?” Ia menatap mata Maxime, senyumnya tipis namun tegas. “I’ll handle everything on my own. Trust me, okay?” “Dan soal perkataanmu tadi ... kamu tahu itu tidak akan pernah terjadi, Max.” Aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya. *** Siang itu, sekitar pukul satu, Joceline duduk di salah satu restoran fine dining yang tak jauh dari kawasan bisnis. Meja mereka menghadap jendela besar, cahaya matahari masuk lembut, kontras dengan suasana di d**a Joceline yang terasa sesak sejak pagi. Di hadapannya duduk seorang kolega bisnis. Seorang pria dengan jas rapi dan senyum yang terlalu percaya diri. Awalnya, percakapan berjalan normal. Mereka membahas peluang kerja sama, timeline proyek, hingga potensi ekspansi brand. Namun, perlahan—terlalu perlahan untuk bisa diabaikan—arah pembicaraan dan bahasa tubuh pria itu mulai bergeser. Nada suaranya menurun, jarak duduknya menyempit. Tatapannya terlalu lama menetap di wajah Joceline, lalu ke tangannya, lalu kembali naik seolah tanpa malu. “Kalau semua klien SÉVARA LUMIÉRE secantik ini,” katanya sambil tersenyum miring, “rasanya saya tidak keberatan rapat setiap hari.” Joceline tersenyum tipis. Profesional. Dingin. Ia menarik tangannya sedikit menjauh saat pria itu nyaris menyentuh pergelangan tangannya dengan dalih menunjuk layar tablet. “Fokus kita sebaiknya tetap di proposal, Pak,” ujarnya tenang. Namun pria itu justru terkekeh, lalu sedikit condong ke depan. Terlalu dekat. Dan sebelum Joceline sempat kembali menegaskan batasan— “Sorry.” Sebuah suara dingin memotong udara. Membuat keduanya menoleh bersamaan. Seorang pria berdiri di samping meja mereka. Posturnya tegap, bahunya lurus, jas hitamnya jatuh sempurna di tubuhnya. Tatapannya tajam, menusuk langsung ke arah pria yang duduk di hadapan Joceline. “Tapi sepertinya lawan bicara Anda terlihat tidak nyaman dengan apa yang sedang Anda coba lakukan,” lanjutnya. Nada suaranya datar. Tidak meninggi. Namun justru itu yang membuatnya terdengar mengancam. “Nath…” panggil Joceline refleks. Ya, pria yang baru saja datang tanpa diundang itu adalah Nathaniel. “Diam, Jo.” Pandangannya tetap terkunci pada pria itu. Membuat pria di hadapan mereka menaikkan satu alis, jelas tidak terima. “Siapa Anda?” tanyanya ketus. “Anda datang tiba-tiba dan ikut campur urusan kami. Are you crazy, man?” “Tidak penting siapa saya.” Nathaniel terlihat tenang. “Tapi seharusnya Anda tahu batasan sebagai rekan bisnis.” Pria itu menyeringai, lalu menoleh ke arah Joceline. “Apa dia kekasih Anda, Nona Jocé?” “Bukan.” Joceline segera menampik. “Ini Nathaniel. Calon adik ipar saya.” “Calon adik ipar?” Pria itu mengulang, seolah meresapi kata-kata itu. Lalu matanya kembali mengarah ke Nathaniel, senyumnya makin melebar. “Menarik. Tapi melihat reaksinya, dibanding calon adik ipar… dia lebih terlihat seperti kekasih yang baru saja menangkap basah pasangannya sedang berselingkuh.” Senyum penuh cela itu membuat rahang Nathaniel mengeras. “Diamlah, b******k!” Namun pria itu sama sekali tidak menanggapi. Ia berdiri santai, merapikan jasnya, lalu kembali menatap Joceline. “Sudahlah,” katanya ringan. “Kita bahas kerja sama ini lain kali saja, Nona Jocé. Nice to meet you.” Lalu, tanpa menunggu respon Joceline, pria itu melangkah pergi begitu saja. Joceline menghela napas panjang. Dadanya naik turun sebelum akhirnya ia menatap Nathaniel lekat. “Apa yang kamu lakukan sebenarnya, Nath?” tanyanya dingin. “Kamu baru saja membuat meeting-ku berantakan.” “Berantakan?” Nathaniel tertawa pendek. “Aku baru saja menyelamatkanmu dari pria b******k itu, bodoh! Dan kamu menyalahkan aku?” “Nath—” “Bisakah kamu berhenti main-main, Joceline?” potongnya tajam. “Tidak cukupkah dulu aku yang kamu permainkan? Sekarang kamu mau melakukan hal yang sama pada Max juga?” “Apa?” Joceline mengernyit. “Aku tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan, Nath.” “Aku bilang berhenti bermain-main, Jo!” Nathaniel tiba-tiba menarik lengan Joceline, memaksanya bangkit dari kursinya. Beberapa pasang mata mulai melirik, namun Nathaniel tidak peduli. “Apa kamu tidak mengerti?” “Apa Max tidak cukup untuk kamu?” lanjut Nathaniel kejam. “Atau kamu memang tidak pernah cukup dengan satu pria dan hanya senang bermain-main dengan mereka?” Kalimat itu menghantam tanpa ampun. Joceline menarik lengannya sepenuhnya dari genggaman Nathaniel. Dadanya terasa panas, matanya berkilat. “Ya,” katanya. “Aku memang tidak pernah cukup hanya dengan satu pria dan senang bermain-main dengan mereka. Apa itu masalah, Nath?” Ia menatap Nathaniel lurus. “Apa jawabanku mengecewakanmu lagi kali ini?” Nathaniel tersenyum. Senyum dingin yang bisa Joceline lihat penuh dengan rasa benci. “Aku pikir, lima tahun setidaknya cukup untuk membuat kamu belajar. Tapi ternyata kamu masih lebih menjijikkan dari yang aku kira, Jo,” ucapnya. “Mencintai dan menikahi adikmu ternyata adalah pilihan terbaik yang pernah aku buat.” “Cepat selesaikan tugasmu,” lanjutnya, “lalu enyah dari hidupku dan Shenina. Aku tidak ingin kamu berada di antara kami lebih lama lagi.” Tanpa menunggu jawaban, Nathaniel berbalik dan pergi. Meninggalkan Joceline berdiri sendiri di tengah restoran, dengan d**a yang terasa penuh dan sesak. Tubuhnya lunglai dan jatuh kembali pada kursi. Ia menunduk, salah satu tangannya meremas kemeja bagian dadanya. Ia tidak ingin menangis, tidak sedikit pun. Sekuat tenaga, Joceline menahan agar pengap itu tidak semakin menusuk yang membuatnya harus mengeluarkan air mata. Tidak boleh ada yang jatuh walau hanya setetes. Karena, jika itu sampai terjadi, ia tidak akan bisa menyelesaikan misinya dan pergi dengan tenang. Bertahanlah sebentar lagi, Jo ... ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD