05. Benci atau Cemburu?

1041 Words
Pagi itu cerah, namun tidak bagi Nathaniel. Ia menemukan pagi yang berat dan sangat tidak ia inginkan. Pikirannya terus berkecamuk meski sudah bersikeras ia enyahkan. Seharusnya, semuanya mudah. Jika saja wanita itu tidak kembali. Ponsel yang sejak tadi ia letakkan di dashboard mobil, menyala. Menampilkan nama tunangannya di layar. Nathaniel mengangkat panggilan itu tanpa ragu. “Nath,” suara wanita itu terdengar cerah. “Kita jadi ke SÉVARA LUMIÉRE hari ini, kan? Aku sudah tidak sabar membicarakan konsep pelaminan.” “Iya,” jawab Nathaniel singkat. “Sesuai jadwal yang kamu mau, sayang.” “Oke. Aku berangkat sekarang. Jangan telat.” Setelahnya, panggilan ditutup. Nathaniel menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, sebelum akhirnya menghela napas pendek dan memasukkannya ke saku jas. SÉVARA LUMIÉRE. Tempat yang belakangan ini terlalu sering muncul dalam agenda hidupnya, bersamaan dengan satu nama yang seharusnya sudah lama terkubur. Joceline. Ia mengemudikan mobil menuju ke apartemen lamanya. Ada beberapa dokumen yang tertinggal dan harus ia ambil segera. Sejak lima tahun lalu, Nathaniel tidak lagi menempati apartemen lamanya yang besebrangan dengan milik Joceline dan pindah ke unit baru, meskipun lebih jauh dari kantor tempatnya bekerja saat ini. Alasannya? Jelas untuk menghindari wanita itu. Rasa sakitnya berhak sembuh, bukan? Namun, saat mengetahui penyebab lukanya pergi, Nathaniel tidak memiliki alasan untuk lari lagi. Unit apartemen tersebut masih sesekali Nathaniel kunjungi apalagi jika jam kerja menyita waktunya, ia akan pulang dan beristirahat sana. Rutinitas itu, terus berlangsung hingga hari ini. Informasi mengenai Joceline yang kembali pulang ke Indonesia cukup mengusik sesuatu dalam diri Nathaniel. Dan fakta bahwa kini mereka harus kembali berada dalam satu ruang, satu agenda, satu rencana besar bernama pernikahan, terasa seperti lelucon yang kelewat kejam. Ia sudah mencoba memberi pengertian kepada Shenina namun tunangannya itu tetap bersikeras menginginkan Joceline yang mengurus pernikahan mereka. “Dia kakakku, Nath. Dan aku mempercayainya.” Begitu yang diucapkan oleh tunangannya saat mereka berdebat. “Aku percaya dia tidak akan membuat masalah. Lagipula, kamu sudah tidak mencintainya, bukan?” ‘Lagipula, kamu sudah tidak mencintainya, bukan?’ Nathaniel mengulang kalimat itu di kepalanya. Kenapa, setelah lima tahun lamanya ... ia harus kembali berhadapan dengan wanita yang begitu tega menghancurkan perasaannya hingga membuatnya sangat membenci wanita itu? Joceline, kenapa kamu kembali? Setelah mendapatkan barang yang dimaksud, Nathaniel keluar dari unit apartemen lamanya dan bermaksud untuk segera menyusul Shenina ke SÉVARA LUMIÉRE sesuai janji, namun, saat membalikkan tubuh, ia di hadapkan dengan sosok yang —tidak— sialnya masih sangat ia kenali. Rambut kecoklatan yang tergerai indah, wajah yang ... ketika berbalik, masih menampakkan wajah cantiknya bahkan terlihat lebih cantik. Sepasang mata coklat yang dulu sangat Nathaniel sukai, semuanya masih sama meski wanita itu kali ini terlihat lebih kurus dari yang terakhir ia lihat. “Maaf.” Adalah kata pertama yang wanita itu ucapkan setelah lima tahun lamanya. Sekaligus membuat kesadaran Nathaniel kembali. “Aku tidak tahu kalau kamu masih menempati unit lama apartemenmu,” ujarnya. Terlihat sekali berupaya menjelaskan agar Nathaniel tidak salah paham. Apa yang sedang Tuhan rencanakan sebenarnya? Kenapa buku yang sudah ia ketahui endingnya sejak lama, harus kembali ia baca? Bukankah akan sama saja? Ia tidak akan menemukan kebahagiaan apapun di buku itu? Bukankah hanya membuang-buang waktu saja? Nathaniel memandang Joceline dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Lalu, “Aku juga tidak tahu bahwa kamu ternyata begitu tidak tahu diri masih berani muncul di hadapanku,” katanya dengan begitu kejam. “Aku tidak tahu apa tujuan kamu kembali tapi Jo, kalau niatmu hanya untuk merecoki hubunganku dengan Shenina, itu tidak akan pernah terjadi.” “Shenina—” “Kamu bisa menolak permintaan gilanya, jika kamu mau,” potong Nathaniel cepat. “Aku tidak punya niat sejelek itu, Nath. Aku tulus membantu Shenina mewujudkan wedding dreamnya,” kata Joceline, membela diri. “Aku akan pastikan aku tidak akan membuat masalah dan kalian menikah sesuai rencana. Hidup bahagia setelahnya,” tambahnya. Namun, pembelaan diri apapun, di mata Nathaniel tidak berarti apa-apa. Ia tidak akan pernah percaya pada kata-kata wanita yang telah membohonginya dulu. Juga lewat kata-kata. Dan apa katanya tadi? Bahagia? Tentu saja. Tentu saja ia akan hidup bahagia dan jelas bukan Joceline penyebabnya. Dia harus mencatat baik-baik point itu di kepala bodohnya. Sialan! Batin Nathaniel. Ia sangat membenci wanita yang kini berada di hadapannya. “Terserah,” ucapnya akhirnya. Ia mengambil langkah lebih dulu meninggalkan Joceline. Namun, baru sekitar lima langkah, tubuhnya kembali berbalik dan menatap Joceline dengan emosi yang meluap. Entahlah tapi berhadapan dengan wanita itu meski sudah lima tahun lamanya, masih terasa sangat menggebu. “Harusnya kamu tetap berada di Melbourne dan tidak pernah kembali, Jo,” ucapnya dingin dan kejam. Ia tahu itu. Tapi, Jo juga harus mengerti rasa sakitnya, bukan? “Karena keputusan bodoh kamu itu, membuat kami semua harus kembali berurusan dengan kamu, dan itu merepotkan!” lanjutnya. “Jocé, jangan terlalu berharap.” Setelah mengatakan itu, ia segera berbalik dan melangkah pergi. Membawa sisa amarah yang masih sulit mereda. Joceline, kamu sialan! *** Ruang presentasi utama SÉVARA LUMIÉRE dipenuhi cahaya natural yang masuk dari dinding kaca setinggi langit-langit. Tirai tipis warna gading dibiarkan terbuka, memperlihatkan taman vertikal khas venue itu. Hijau, rapi, namun terlalu tenang untuk sebuah pertemuan yang menyimpan banyak sejarah. Di depan ruangan, proyektor besar menampilkan visual konsep pelaminan yang d******i putih tulang, aksen emas pucat, instalasi bunga segar yang disusun simetris dengan detail ukiran klasik khas Eropa modern. Maxime berdiri tegak di samping layar, jas abu gelapnya rapi, dengan iPad di tangan kirinya. “Konsep yang sebelumnya sudah sempat di dibahas dengan Shenina adalah tema Timeless Elegance,” jelasnya dengan suara tenang dan profesional. “Dan setelah berdiskusi dengan tim, kami mencoba menciptakan suasana sakral yang tidak berlebihan, tapi tetap memiliki statement kuat sesuai keinginan. Pelaminan akan ditempatkan di tengah dengan latar struktur arch berlapis—” Ucapan itu terpotong ketika pintu ruang presentasi terbuka perlahan. Semua kepala refleks menoleh. Joceline melangkah masuk dengan langkah cepat namun tetap terkontrol. Napasnya sedikit tertahan, tapi wajahnya tetap tenang. Ia menunduk sopan. “Maaf saya terlambat,” ucapnya singkat. “Ada sedikit kendala di perjalanan.” Maxime hanya melirik sekilas, lalu tersenyum kecil. Senyum yang terlalu menyebalkan di mata Nathaniel. Sudahkah ia bilang bahwa selain Joceline, dia juga membenci pria bernama Maxime Cavero Danadyaksa? Ya, dia juga membencinya. Catat itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD