06. Bunga Kesukaan Joceline

1137 Words
Max menggeser satu kursi kosong di sampingnya. “Duduk, Jo,” katanya ringan, seolah keterlambatan itu bukan apa-apa. Joceline mengangguk, duduk tepat di samping Maxime. Pria itu kembali melanjutkan presentasi yang tertunda dan Joceline ikut menyimaknya. Harusnya, itu adalah tugas Joceline sebagai owner dari SÉVARA LUMIÉRE. Namun lagi-lagi ia harus selalu merepotkan Maxime—Donatur terbesar, partner bisnis, dan sahabat yang selalu datang saat Joceline tidak sanggup berdiri sendiri dalam mengambil angkahnya. Padahal, pria itu seharusnya berada di meja kerja di kantornya sendiri. Kadang, Joceline berpikir keras bagaimana cara membalas kebaikan pria itu padanya selama ini. Mampukah ia melakukannya? Atau sebaliknya, ia akan terus merepotkan Max seumur hidupnya? Entahlah. Semoga tidak. “Material utama yang digunakan adalah kayu oak putih dengan finishing matte yang dikombinasikan dengan aksen logam emas satin agar tidak terlalu reflektif di pencahayaan malam—” “Tunggu,” potong Nathaniel tiba-tiba. Sejak tadi pria itu duduk bersandar dengan postur santai, kedua tangan terlipat, dan ekspresi yang nyaris tak terbaca. Namun kini, ia sedikit condong ke depan, menatap layar dengan sorot mata datar. “Lo serius menghadirkan konsep kayak gini, Max?” “Ini udah sesuai dengan permintaan calon istri lo di awal.” Max menjawab dengan santai. Sehenina refleks menoleh pada Nathaniel. “Kenapa sayang? Ada yang salah?” “Pelaminan ini terlihat bagus, iya. Elegan. Tapi kalau boleh jujur, gue tidak menemukan ada yang benar-benar membedakan dari venue-venue mewah lain,” komentarnya. Udara di ruangan itu mengencang tipis. “Untuk ukuran SÉVARA LUMIÉRE,” lanjut Nathaniel tanpa nada tinggi, “Gue berekspektasi sesuatu yang lebih tinggi, lebih berani. Lebih memberikan efek personal. Bukan sekadar yang seperti ini.” Joceline menunduk pada layar iPad-nya, jari-jarinya berhenti bergerak. Ia mendengar setiap kata itu dengan terlalu jelas. Sedangkan Maxime, ia terlihat tetap tenang. Bahkan, senyum kecilnya tidak luntur. “Itulah gunanya kita di sini,” katanya. “Kita bisa berdiskusi mengenai apa yang harus direvisi, dikurangi, atau di tambahkan.” Nathaniel mengangkat alis tipis. Kentara sekali bahwa ia tidak suka. Tidak suka pada apa? Jawaban Maxime? Cara Maxime menjawab? Percayalah, hanya ia yang tahu. “Konsep ini dirancang bukan hanya untuk mencuri perhatian, tapi memberi ruang bagi pengantin sebagai pusat emosi acara,” lanjut Maxime. “SÉVARA LUMIÉRE tidak pernah ingin mengalahkan momen—kami ingin mendukungnya.” Ia mengetuk iPad, slide berganti. “Namun,” sambungnya, “jika yang lo maksud dengan ‘lebih personal’ adalah elemen emosional yang merepresentasikan perjalanan kalian, itu bisa ditambahkan. Misalnya melalui detail cerita di instalasi belakang, atau simbol tertentu yang hanya bermakna bagi kalian berdua.” Nathaniel menatap layar, lalu tanpa sadar melirik ke arah Joceline. Wanita itu tetap tenang. Wajahnya profesional. Tidak ada reaksi. Seolah komentarnya tidak menyentuhnya sama sekali. “Jadi,” Nathaniel kembali bersuara, “konsep ini masih bisa diubah, bukan?” “Disesuaikan.” Kali ini Joceline yang menjawab. Lembut tapi tegas. “Bukan diubah seluruhnya. Karena fondasinya sudah sesuai dengan karakter yang calon istri Pak Nathaniel inginkan. Kecuali kalo Bapak mau berdiskusi kembali dengan calon istri anda mengenai konsep pelaminan.” Sialan! Nathaniel benci panggilan itu. “Bagaimana?” “Lanjutkan saja,” jawab Nathaniel akhirnya. Joceline menggeser kursinya sedikit ke belakang, lalu berdiri. Gerakannya tenang, terukur, layaknya seseorang yang sudah terlalu sering berdiri di posisi ini. Maxime otomatis mundur setengah langkah, memberinya ruang tanpa perlu diminta. “Baik,” ujar Joceline, jemarinya menyentuh iPad. “Kita masuk ke bagian dekorasi pelaminan.” Slide berganti. Visual di layar kini menampilkan komposisi bunga dengan palet warna lembut. Terdiri dari putih tulang, ivory, sentuhan blush pucat, dan hijau tua yang elegan. “Karena konsep awal yang Shenina sampaikan adalah pelaminan dengan kesan classic–elegant.” Ia menunjuk layar. “Untuk itu, kami bersama tim memilih kombinasi garden roses putih, lily of the valley, ranunculus, dan peony blush sebagai focal point.” Joceline berhenti sejenak, memberi ruang agar visual itu lebih terasa hidup. “Garden roses memberi kesan klasik yang tak lekang waktu. Lily of the valley melambangkan kemurnian dan awal yang baru. Sedangkan Ranunculus dipilih untuk menambah volume tanpa terlihat berat.” Nada suaranya tetap stabil. “Sedangkan peony—” “Aku tidak suka peony.” Suara Nathaniel kembali terdengar memotong, datar namun tegas. Joceline menoleh perlahan. Tidak kaget. Hanya mengangkat alis tipis profesional. “Alasannya?” tanyanya singkat. “Terlalu mencolok,” jawab Nathaniel tanpa ragu. “Terlalu besar. Terlalu… mencuri perhatian.” Shenina langsung menoleh. “Tapi aku suka peony, Nath.” Nathaniel menghela napas pendek. “Justru itu. Pelaminan bukan soal bunganya, Shen. Jangan sampai kelihatan berlebihan.” “Berlebihan di mana?” Shenina menyanggah, nada suaranya meninggi setengah oktaf. “Warnanya lembut. Aku sudah bilang dari awal aku ingin peony.” Joceline tetap berdiri di tengah-tengah mereka. Tidak menyela, tiidak juga memihak. Namun Nathaniel kembali bersuara, kali ini menatap langsung ke arah Joceline. “Bisa diganti, kan? Aku ingin sesuatu yang lebih subtle.” Joceline mengangguk kecil, seolah sedang mempertimbangkan. “Peony dipilih karena ukurannya justru memberi keseimbangan visual pada struktur arch yang besar. Tanpa itu, pelaminan akan terlihat kosong.” “Itu menurut kamu,” sahut Nathaniel cepat. “Dan menurut aku,” Shenina menyela, jelas tidak terima, “peony itu cantik. Aku menginginkannya, Nath.” Hening jatuh sebentar di ruangan tersebut. Tipis, tapi cukup berat. Maxime melirik Joceline sekilas, seolah siap masuk jika diperlukan. Namun Joceline mengangkat tangan kecil, sebuah isyarat halus agar ia tetap di tempat. “Begini,” kata Joceline akhirnya, tenang namun berlapis tekanan yang tidak kasat mata. “Peony memang punya karakter kuat. Kalau Pak Nathaniel merasa terlalu mencolok, kita bisa mengatur ulang porsinya.” Nathaniel menyipitkan mata. “Seperti apa?” “Peony tidak perlu dijadikan focal utama,” jawab Joceline. “Kita bisa menurunkannya ke layer kedua, dipadukan dengan garden roses dan lily of the valley agar tampil lebih lembut. Warna blush tetap ada, tapi tidak mendominasi.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada netral, “Dengan begitu, keinginan Shenina tetap terakomodasi tanpa menghilangkan kesan understated yang Pak Nathaniel inginkan.” Shenina menatap layar, lalu menoleh ke Joceline. “Itu masih pakai peony kan, Kak?” “Pakai,” jawab Joceline sebelum Nathaniel sempat menyela. “Tapi dengan komposisi yang lebih halus.” Nathaniel bersandar lebih dalam ke kursinya, rahangnya mengeras. Sorot matanya dingin, jelas tidak sepenuhnya puas. “Kita akan menikah, Shen,” katanya pelan namun menekan, “bukan melakukan pameran bunga.” Shenina terdiam sepersekian detik. Lalu ia menoleh, tatapannya bergeser dari layar ke arah Joceline, sebelum kembali pada Nathaniel. “Justru karena kita akan menikah, Nath,” sergahnya. “Kenapa?” Suaranya terdengar lebih tajam dari sebelumnya, “Atau kamu ingin menggantinya dengan Easter Lily saja?” Udara di ruangan itu seolah mendadak berhenti bergerak ketika Shenina menyebutkan bunga Easter lily. “Tentu tidak, bukan? Karena Itu bukan bunga kesukaanku. Itu kesukaan Kak Jocé.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD