Kepala Nathaniel rasanya ingin pecah. Dentuman musik di Noir Éclipse seperti palu yang menghantam saraf-sarafnya tanpa ampun. Pandangannya kabur, semua wajah orang di sekitarnya hanya berupa bayangan buram yang memuakkan. Nathaniel benci tempat ini, benci rasa alkohol yang membakar tenggorokannya tanpa ampun. Tapi lebih dari segalanya, ia membenci bayangan Joceline yang tidak mau hilang dari kepalanya. Lalu, tiba-tiba, Nathaniel seperti melihat sosok yang baru saja ia bicarakan bersama dirinya sendiri. Awalnya ia pikir itu hanya halusinasi b******k lainnya. Namun, wangi vanilla dan peony yang sangat ia kenal itu menyeruak di antara bau alkohol dan asap rokok. “Nath, bodoh,” ucap Joceline. “Kenapa kamu sampai mabuk berat seperti ini? Apa kamu bertengkar dengan Shenina? Astaga…” Nathan

