Joceline hanya bisa memutar bola matanya saat melihat Nathaniel sibuk mondar-mandir di ruang kerjanya sambil menempelkan ponsel di telinga. “Pokoknya anda harus ke sini sekarang, Dok. Tidak mau tahu, batalkan pasienmu yang lain! Istriku muntah hebat dan wajahnya sangat pucat. Ini darurat! Mengerti?” tegas Nathaniel dengan nada yang tidak menerima penolakan sedikit pun. “Nath, demi Tuhan... ini hanya mual biasa. Aku juga sudah merasa baikan sekarang,” protes Joceline yang tengah duduk bersandar di sofa. “Diam, Jo. Kamu bukan dokter,” sahut Nathaniel tanpa menoleh, tetap fokus pada instruksi yang ia berikan pada dokter keluarganya di telepon. Tiga puluh menit kemudian, Dokter Wijaya—dokter keluarga kepercayaan keluarga Whitmore—datang dengan napas sedikit tersengal. Joceline refleks memb

