Tiana meletakkan segelas air putih dan dua butir pil antibiotik di atas meja kaca. "Minum," titah Tiana tegas. Leonel mengambil obat itu tanpa protes, menelannya dalam satu tegukan. Tiana duduk merapat, matanya memindai perban di lengan kiri Leonel dengan saksama. "Nggak berdarah lagi, kan?" tanya Tiana waswas. "Tidak, Sayang. Dokter Salsa mengikatnya dengan sempurna," jawab Leonel santai. Drrrtt... Ponsel Leonel di atas meja bergetar. "Siapa yang telepon." Layar memunculkan nama Biantara, Kakak Tiana. "Kak Bian!" seru Tiana antusias. "Angkat, Leon. Pakai loudspeaker." Leonel menekan tombol hijau dan menyalakan pengeras suara. "Ya, Bian," sapa Leonel datar. "Leon," suara berat Biantara terdengar dingin. "Paman Matteo baru saja meneleponku. Katanya Don Alvaro sampai turun tan

