Sore itu di ruang tengah, suasana terasa begitu damai. Leonel bersandar santai di sofa panjang, sementara Tiana duduk menyamping di pangkuannya. Tangan kanan Leonel melingkar posesif di pinggang Tiana, jemarinya mengusap lembut punggung istrinya. Tiana menatap wajah tampan suaminya, merapikan anak rambut yang jatuh menutupi dahi Leonel. Jarak wajah mereka semakin dekat. Napas Leonel menyapu hangat bibir Tiana. Mata abu-abu Leonel menatap bibir istrinya dengan intensitas yang membuat jantung Tiana berdebar tak karuan. Tiana memejamkan mata, menunggu bibir mereka menyatu. "Ehem. Permisi, Tuan." Suara bariton yang berat dan kaku itu mendadak memecah keheningan. Tiana tersentak kaget dan langsung melompat dari pangkuan Leonel. Wajahnya memerah padam seperti kepiting rebus. Dia

