Leonel menatap Tiana lekat-lekat, lalu dengan tenang ia merogoh ponselnya lagi. "Oke. Kalau itu maumu." Tiana hanya mendengus, melipat tangan di d**a dengan angkuh. Ia pikir Leonel hanya menggertak. Namun, matanya membulat saat Leonel benar-benar menekan tombol panggil dan menyalakan loudspeaker. "Halo, selamat malam, Pak Bram," ucap Leonel begitu telepon diangkat. Tiana tersentak. Leonel serius? "Malam, Pak Leonel. Ada instruksi mendadak?" suara berat di seberang sana terdengar sangat sigap. "Siapkan gugatan pencemaran nama baik untuk portal berita Headline News. Judul mereka malam ini mengganggu ketenangan istri saya. Saya mau artikel itu hilang dalam tiga puluh menit atau beli saja sekalian perusahaannya lalu pecat redakturnya," perintah Leonel tanpa ekspresi. Tiana melongo. Ia ti

