Tiana merebahkan tubuhnya yang terasa remuk ke atas kasur, menatap langit-langit kamar yang temaram. Pikirannya masih tertinggal di taman kampus tadi siang, memutar ulang setiap kata yang meluncur dari bibirnya di depan Sisil dan Ghea. Ia memejamkan mata, lalu mengerang pelan sambil menutupi wajahnya dengan bantal. "Bego banget sih lo, Tiana!!! Bisa-bisanya lo keceplosan sebanyak itu? Sekarang mereka pasti udah ngehalu. Mereka bayangin suami gue gitu?" Tiana merasa aneh, kenapa dia kesal. Kenapa dia tak rela temannya membayangkan suaminya. Gila, tidak mungkin Tiana mulai ada rasa yang mendalam melebihi gairah polosnya yang beberapa hari ini tidak terkontrol. "Nggak, jangan mikir aneh-aneh! Gue pasti cuman nggak rela karna gue nggak mau ribet. Kalau mereka neror gue dengan cerita

