Leonel menggendong tubuh Tiana yang sudah tidak bertenaga keluar dari mobil. Ia berjalan santai melewati lorong mansion tanpa memedulikan Tiana yang menyembunyikan wajahnya di d**a bidang suaminya. Begitu sampai di kamar, Leonel menurunkan Tiana di atas lantai marmer yang dingin. Tiana yang tersadar dari euforianya mendadak merasa sangat malu. Ingatannya kembali pada kejadian di mobil saat ia mengerang tanpa malu di pangkuan suaminya. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung berlari kecil menuju kamar mandi untuk menghindari tatapan Leonel yang menggoda. Baru saja Tiana hendak mengunci pintu, sebuah tangan besar menahan pintu itu dengan kuat. Leonel melangkah masuk dengan santai seolah itu adalah hal paling wajar di dunia. "Leon! Ngapain ikut masuk? Keluar!" teriak Tiana sambil meloto

