"Haah. Semoga dia nggak ada di dalam, tapi dia pasti udah di rumah, sih." Begitu Tiana melangkah masuk ke dalam mansion, suasana dingin langsung menyergapnya. Ia melihat Leonel sudah berdiri tegak di tengah ruang tamu, masih dengan kemeja kerjanya yang elegan, seolah-olah memang sedang menunggu kepulangannya. "Sial. Itu dia, kenapa ada sih," decaknya. Namun, Tiana yang masih merasa kesal dan malu memilih untuk bersikap cuek. "Jalan saja, Tiana," gumamnya sedikit gugup juga. Ia membuang muka, berjalan melewati Leonel begitu saja seolah pria itu hanya bayangan. "Jalan, jangan pedulikan, anggap saja tidak ada orang!" ucap Tiana pelan. Baru dua langkah Tiana menjauh, tangan besar yang kuat menyambar pergelangan tangannya. "Mau ke mana, Sayang?" suara Leonel membuat Tiana merinding

