Tiana merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang terasa sangat empuk, jauh lebih nyaman daripada kasur di kamarnya sendiri.
Jujur saja, Tiana terkesan tapi tetap tak mau mengakuinya.
Ia meraih ponsel dan membuka grup percakapan yang isinya sudah meledak dengan ribuan notifikasi.
Teman-temannya, terutama Ghea, sosok yang dulu menyeretnya ke kelab malam itu, seolah tidak berhenti mengirimkan pesan sejak acara resepsi berakhir.
Ghea : Woy Tiana! Sumpah ya lo bener-bener dapet jackpot! Gue masih gemeteran liat muka suami lo dari deket. Itu manusia apa pahatan dewa sih?
Sisil : Beneran anjir! Gue kira Leonel De Luca itu cuma mitos karena fotonya nggak pernah ada di internet. Taunya pas muncul langsung bikin ginjal gue bergetar. Beruntung banget lo, Na!
Tiana mendengus kesal membaca rentetan pujian itu. Jari-jemarinya dengan lincah mengetik balasan di layar ponsel.
Tiana : Apaan sih lo semua lebay banget! Tampan doang tapi kelakuannya kayak dajjal buat apa? Gue berasa dikurung di kulkas tau nggak! Dingin banget!
Ghea : Halah gaya lo! Dingin-dingin gitu biasanya kalo udah di ranjang malah paling panas, Na. Inget nggak sih lo dulu waktu kita ke kelab terus lo ilang bentar? Lo bilang lo pengen cowok yang dominan kan? Nah itu dapet yang level bos terakhir!
Tiana tersentak, dadanya berdegup kencang membaca pesan Ghea.
Ia teringat memori malam itu, saat ia merasa begitu kecil di bawah kuasa pria misterius yang aromanya kini mengelilinginya di mansion ini.
Namun ia segera menggeleng kuat, berusaha menghapus bayangan itu.
Tiana : Ghea mulut lo ya minta disekolahin lagi! Dia itu menyebalkan banget! Masa gue baru nyampe udah dikunciin di kamar? Terus dia lewat depan pintu aja nggak nengok sama sekali. Gila nggak sih?
Sisil : Mungkin dia lagi nahan diri kali, Na. Pria jenius kayak dia pasti punya cara main yang beda. Gue baca di artikel bisnis, Leonel itu teliti banget sama asetnya. Lo kan sekarang jadi aset paling berharga dia.
Tiana melempar ponselnya ke samping bantal dengan perasaan dongkol.
Aset lagi, aset lagi, batinnya. Semua orang seolah memuji Leonel tanpa tahu betapa kasarnya pria itu semalam.
Ia meraih bantal dan menutup wajahnya, mencoba meredam teriakan frustrasi yang tertahan di tenggorokan.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan. Tiana tersentak dan langsung duduk tegak, merapikan jubah mandinya yang sedikit tersingkap.
Leonel berdiri di sana, masih dengan kemeja hitam yang sama, namun kini kancing atasnya sudah terbuka, memperlihatkan sedikit garis dadanya yang kokoh.
"Berhenti bermain ponsel dan bersiaplah. Jam makan malam dimulai sepuluh menit lagi. Aku tidak suka menunggu," ucap Leonel tanpa ekspresi.
Tiana menatapnya tajam. "Kamu nggak bisa ketuk pintu dulu? Ini privasi aku!"
Leonel melangkah masuk satu langkah, matanya menyapu seluruh sudut kamar sebelum kembali tertuju pada mata Tiana.
"Di bawah atap ini, privasimu adalah privasiku juga."
"Hah, menyebalkan," sahut Tiana jengkel.
"Pakai baju yang sudah disiapkan di ruang ganti. Jangan coba-capa memakai pakaian yang aneh atau aku sendiri yang akan menggantinya untukmu."
"Aneh? apa maksud kamu aneh?"
"Seperti yang kamu kenakan malam itu, sangat aneh." Leonel menegaskan lalu pergi.
Tiana tertegun, bibirnya bergetar ingin memaki namun Leonel sudah berbalik pergi begitu saja.
"Aneh katanya? Dasar gila!!"
Pria itu benar-benar sangat detil dalam mengontrol hidupnya, bahkan sampai urusan pakaian pun sudah diatur.
Tiana berjalan menuju ruang ganti dengan perasaan dongkol, namun ia kembali terkesiap saat melihat gaun tidur berwarna merah marun yang sudah disiapkan.
"Oke, ini cukup sopan," gumamnya.
Leonel benar-benar tahu ukuran tubuhnya. "Apa dia memata-matai aku, ya?"
Tiana mengumpat lagi dalam hati.
"Astaga pria itu, kenapa sangat menjengkelkan!"
***
Tiana turun ke ruang makan dengan langkah ragu, mengenakan gaun tidur yang tadi disiapkan. Begitu sampai di meja makan, matanya membelalak.
Di atas meja sudah tersaji banyak makan, dan semuanya tampak lezat.
"Duduklah," ucap Leonel tanpa menatap Tiana.
Tiana menarik kursi dengan pelan lalu mulai mencicipi pasta di depannya. Matanya berbinar, rasanya sangat enak, bahkan jauh lebih enak dari restoran bintang lima langganannya.
Ia makan dengan lahap, melupakan sejenak rasa kesalnya karena perutnya yang lapar tidak bisa diajak kompromi.
Sambil mengunyah, Tiana mencoba mencairkan suasana yang membeku di antara mereka.
Ia merasa harus tahu sedikit tentang keluarga pria yang kini menjadi suaminya ini.
"Keluargamu yang lain mana? Maksudku, kenapa aku tidak melihat adik atau kakakmu di pernikahan kemarin?" tanya Tiana sambil berusaha bersikap santai.
Leonel meletakkan tabletnya, matanya menatap Tiana dengan datar.
"Aku punya seorang adik perempuan, Michele. Dia sedang berada di Italia mengurus beberapa bisnis klan di sana, jadi dia tidak bisa hadir," jawab Leonel singkat.
Tiana mengangguk-angguk kecil sambil menyeruput jusnya. Meskipun Tiana penasaran, tapi dia tak mau bertanya lebih jauh.
"Lalu orang tuamu?"
"Maksudnya, siapa tau nanti aku harus berkunjung, nggak lucu kalau aku nggak tau apa-apa."
Leonel menyeringai tipis sambil memotong salmon di piringnya.
"Tidak perlu. Aku sudah berpesan sejak awal agar Papa dan Mama tidak ikut campur dalam urusan rumah tanggaku."
"Hah?" Tiana tercengang.
"Aku harap kamu tidak perlu berbasa-basi atau berusaha keras hanya untuk menjalin hubungan baik dengan mereka."
"Apa? basa basi kata kamu?"
"Ya, bagiku, drama mertua dan menantu itu tidak ada di rumah ini," ujar Leonel tegas.
Tiana tertegun, ia hampir tersedak jus jeruknya.
"Kamu serius?"
"Ya, aku tak pernah bercanda."
"Tapi mereka kan orang tuamu. Setidaknya kamu kasih tau aku, ah, sudahlah. Kamu memang aneh!"
Leonel menatap Tiana dalam-dalam, tatapannya seolah mengunci pergerakan gadis itu.
"Di duniaku, privasi dan batasan adalah segalanya. Kamu istriku, bukan aset milik orang tuaku. Cukup fokus pada apa yang ada di depanmu sekarang."
"Aset lagi," gumam Tiana.
"Selesai makan, berikan ponselmu padaku. Aku sudah memasang sistem enkripsi khusus agar komunikasimu tidak bisa disadap," ucap Leonel tiba-tiba.
Tiana mengerucutkan bibirnya, merasa jengkel.
"Kenapa harus sebegininya sih? Aku cuma mau ngobrol sama Ghea dan Sisil! Lagipula siapa yang mau menyadap sih?"
Leonel berdiri, ia berjalan mendekat ke arah Tiana hingga bayangan tubuh tegapnya menutupi gadis itu sepenuhnya.
Ia mencondongkan tubuhnya, membuat aroma wanginya kembali menyerang indra penciuman Tiana dengan kuat.
"Karena sekarang kamu adalah target nomor satu bagi siapa pun yang membenciku, Tiana. Pahami itu jika kamu masih ingin hidup tenang," bisik Leonel rendah, membuat bulu kuduk Tiana meremang.
Tiana hanya bisa menelan ludah, menatap punggung Leonel yang berjalan meninggalkan meja makan.
Pria itu menyebalkan, tapi semua detail perlindungan ini terasa sangat nyata dan menyesakkan secara bersamaan.
"Dasar robot otoriter! Dia pikir dia siapa, mengatur suhuku, makananku, bahkan urusan mertuaku sendiri!" gumam Tiana dengan nada rendah yang penuh penekanan.
Ia menarik napas panjang, mencoba meredakan detak jantungnya yang selalu berpacu tidak keruan jika Leonel berada dalam jarak sedekat tadi.
"Kenapa dia harus sangat kaku seperti itu? Apa dia tidak pernah diajarkan cara bicara yang normal pada manusia?" batin Tiana sinis.
"Semuanya harus sesuai perhitungannya, semuanya harus di bawah kendalinya. Aku bukan salah satu program komputer di tabletnya itu yang bisa dia atur-atur sesuka hati!"
"Dia bilang drama mertua tidak ada? Baguslah kalau begitu. Tapi dia sendiri adalah drama terbesar di hidupku sekarang," monolognya lagi sambil bangkit dari kursi.
***
Tiana berdiri mematung di depan pintu kamar utama yang terbuka lebar.
Ia melihat Leonel sedang melepaskan jam tangan mahalnya dan meletakkannya di atas nakas.
"Aku mau kamar sendiri, Tuan Leonel. Aku tahu mansion ini punya puluhan kamar kosong, jadi suruh pelayanmu menyiapkan satu untukku sekarang juga," ucap Tiana dengan nada setegas mungkin, meski ia harus sedikit mendongak karena perbedaan tinggi badan mereka yang mencolok.
Leonel tidak langsung menjawab. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Tiana dengan pandangan yang sulit dibaca.
Tatapannya turun sejenak ke arah pergelangan tangan Tiana yang mungil sebelum kembali ke matanya.
"Tidak ada kamar lain untukmu. Kamu tidur di sini, di ranjang ini, bersamaku," balas Leonel.
Tiana tertawa hambar, ia merasa ini adalah puncak dari segala kegilaan Leonel hari ini.
"Kamu bercanda? Setelah apa yang kamu lakukan semalam, kamu pikir aku sudi tidur satu ranjang lagi denganmu?"
Leonel melangkah maju, membuat Tiana refleks mundur hingga punggungnya membentur pintu yang sudah tertutup.