Bab 6 - Pria Gila Itu Suami Memabukkan 🔥

974 Words
Leonel meletakkan satu tangannya di samping kepala Tiana, mengunci pergerakan gadis itu. Aroma parfum Leonel memang sama persis, Tiana kini semakin yakin. Tapi bukan berarti Leonel adalah pria di kelab itu, karna mustahil, pikirnya. "Kamu harus tetap berada dalam jangkauan tanganku setiap detik," bisik Leonel. "Papamu memanjakanmu seperti boneka porselen di dalam lemari kaca." Pria itu tersenyum, membuat Tiana gentar. "Dia membiarkanmu buta tentang dunia yang sebenarnya, Tiana." "Apa maksud kamu?!" "Maksudku, Papamu dan kakakmu, Biantara, mungkin pikir mereka melindungimu dengan cara menyembunyikan kegelapan darimu, tapi bagiku, itu adalah kesalahan fatal." Tiana mengerutkan kening, ia merasa bingung sekaligus tersinggung. "Apa maksudmu? Jangan berkata seolah keluargaku jahat. Atau kamu yang sebenarnya penjahat!" Leonel menyeringai sinis, ia menatap Tiana dengan tatapan kasihan yang membuat Tiana ingin sekali mencakar wajahnya. "Memang benar, suamimu ini penjahat." Tiana meneguk ludah, dasar pria gila! "Dengar baik-baik, Nona yang tidak tahu apa-apa. Aku bertanggung jawab penuh atas keamanamu, dan hanya di kamar ini kamu bisa aman." Leonel mendekatkan bibirnya ke telinga Tiana, membuat bulu kuduk gadis itu meremang hebat. "Paham?" Tiana menatap Leonel sambil melotot. "Nggak!" "Terserah saja, itu semua pilihanmu." Tiana meneguk ludah, memangnya ada apa, sih. Tiana justru jadi takut, jika tiba-tiba ada hantu di rumah mewah itu. "Jika kamu tidur di kamar lain, aku tidak bisa menjamin kamu akan bangun dengan napas yang masih tersisa di tenggorokanmu." "Apa sih? Kamu nakutin aku tau!" Tiana merinding. "Pilihannya hanya dua, tidur di sampingku agar aku bisa menjagamu, atau ...." "Atau apa??" Tiana terdiam membeku, napasnya tersengal karna mulai takut. "Pikir saja sendiri," tutup Leonel. Namun, melihat sorot mata Leonel yang sangat serius dan dingin, Tiana menyadari bahwa pria ini tidak sedang bermain-main. "Kenapa Papa tidak pernah bilang hal-hal seperti ini padaku?" bisik Tiana dengan suara yang mulai bergetar. "Karena dia ingin kamu tetap menjadi putri kecil yang suci, kamu gampang takut." Leonel menjauhkan tubuhnya, memberikan ruang bagi Tiana untuk bernapas, meski rasa sesak di dadanya belum juga hilang. Ia berjalan menuju sisi ranjang dan menyibak selimut sutra berwarna gelap itu. "Cepat naik ke ranjang. Aku punya banyak pekerjaan dan aku tidak punya waktu untuk meladeni drama penolakanmu lagi," perintah Leonel tanpa menoleh lagi. Tiana berdiri gemetar di dekat pintu, ia menatap ranjang besar itu dengan perasaan ngeri. Ia merasa dunianya yang selama ini indah dan aman baru saja runtuh dalam satu malam. Ia kesal karena Leonel memperlakukannya seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa, tapi di sisi lain, ia merasa sangat kecil dan rentan di depan pria yang tampak tahu segalanya ini. Dengan langkah kaku dan perasaan dongkol yang luar biasa, Tiana berjalan menuju sisi ranjang yang berlawanan. Ia merangkak masuk ke bawah selimut, memunggungi Leonel sejauh mungkin. Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan air mata frustrasi yang ingin tumpah. Pria ini benar-benar menyebalkan, tapi kenapa rasanya hanya dia yang bisa memberitahuku kebenaran? Batin Tiana. Gadis itu menahan napas, tangannya meremas ujung selimut dengan erat. "Tiana, dengarkan aku," suara Leonel terdengar lebih rendah dari sebelumnya. Tiana tidak bergeming, namun ia memasang telinganya tajam-tajam. "Berhentilah bersikap seolah dunia ini hanya berisi pesta dan kemewahan." Tiana menegang. "Kamu sudah dua puluh tahun, sudah saatnya kamu belajar untuk lebih dewasa dan menerima kenyataan bahwa hidupmu tidak lagi sama sejak kamu menyandang nama Narendra Tama, dan kini ada nama De Luca," lanjut Leonel. Tiana menggigit bibir bawahnya, ia ingin sekali berbalik dan meneriaki pria itu, namun kata-kata Leonel selanjutnya justru membuatnya tertegun. "Kamu tidak perlu risau tentang keamananmu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu tanpa izin dariku." "Aku lebih dari sekadar mampu untuk menjagamu, bahkan dengan cara yang jauh lebih ketat dan aman dibandingkan saat Papamu menjagamu selama ini," ucap Leonel dengan nada yang sangat yakin, seolah ia sedang menyatakan sebuah fakta yang tidak bisa diganggu gugat. Leonel terdiam sejenak, ia menatap punggung kecil Tiana yang tampak rapuh di bawah balutan selimut. "Papamu, mertuaku, Abimana, ia menjagamu dengan cara menyembunyikanmu dari dunia, tapi aku menjagamu dengan cara menaklukkan dunia itu untukmu." "Jadi, tidurlah. Selama kamu berada di kamar ini, di sampingku, tidak akan ada satu hal pun yang bisa melukaimu." "Berhenti menakut-nakuti aku!" tegas Tiana. Leonel mendengar itu, namun ia hanya menyeringai tipis di kegelapan kamar. Ia bangkit dari tepi ranjang dan berjalan menuju sisi ranjangnya sendiri. "Kita lihat saja nanti, Nyonya De Luca. Sekarang, tutup matamu." *** Tiana menarik selimut sutra itu sampai menutupi kepala, pagi datang sangat cepat. Tak terasa, Tiana bisa tidur semalam. Namun, memori semalam langsung menghantam Tiana. Sisi ranjang di sampingnya sudah kosong. "Sialan!" umpat Tiana sambil melempar bantal milik Leonel ke lantai dengan sekuat tenaga. "Benar-benar menjengkelkan! Bisa-bisanya dia bangun seolah tidak terjadi apa-apa setelah menyekapku di sini semalam!" Tiana duduk tegak di tengah ranjang besar itu, rambutnya yang acak-acakan. Ia menghentakkan kakinya ke kasur berkali-kali, meluapkan rasa jengkelnya pada Leonel. Gadis itu benci kenyataan bahwa meskipun ia sudah berusaha menjaga jarak sampai ke pinggir ranjang semalam, ia justru terbangun dalam posisi yang jauh lebih rileks, seolah kehadiran Leonel tidak mengganggunya sama sekali. "Awas saja kamu, Leonel! Aku nggak. akan membiarkanmu menang semudah itu!" Tiana bangkit dengan perasaan dongkol yang luar biasa. Ia butuh membasuh wajahnya dan menyegarkan pikirannya yang kacau. Dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan, ia menuju pintu yang ia yakini sebagai ruang bilas pribadi untuk mendinginkan suhu tubuhnya yang mendidih karena emosi. Namun, Tiana terlalu dikuasai amarah hingga ia tidak menyadari bahwa suara gemericik air sudah terdengar dari balik pintu yang sedikit terbuka itu. Ia mendorong pintu tersebut dengan kasar, siap untuk menguasai wilayah pribadinya, tanpa tahu bahwa ia sedang melangkah masuk ke dalam jebakan yang akan membuatnya benar-benar tak berkutik. Begitu melangkah masuk, kabut uap air yang hangat langsung menyambutnya. Tiana tertegun, namun sebelum ia sempat berbalik, sepasang tangan kekar sudah menarik pinggangnya dengan sentakan halus. Tiana tersentak hebat, ia mendapati dirinya kini berada di bawah kucuran air yang mendadak berubah menjadi sedingin es. "Lepaskan! Apa yang kamu lakukan, Leonel?!" teriak Tiana sambil mencoba memberontak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD