Bab 8 - Basah, Diam, dan Berbahaya

1504 Words
Tiana berdiri mematung di sudut kamar, jemarinya mencengkeram erat handuk yang membungkus tubuhnya yang masih basah. Ia terus memperhatikan pintu kamar mandi dengan napas tertahan, bersiap jika Leonel keluar dan kembali menyerangnya. Namun, saat pintu itu terbuka, Leonel melangkah keluar dengan ketenangan yang luar biasa. Pria itu sudah mengenakan jubah mandi yang tertutup rapat, rambutnya yang basah disisir ke belakang dengan rapi. Terlalu normal, padahal Tiana baru saja mendorongnya dengan kasar. Ia seolah-olah sudah melupakan kejadian panas di bawah pancuran tadi dalam hitungan detik. Leonel berjalan menuju meja kerjanya yang berada di sudut ruangan, menyalakan tablet, dan mulai berkutat dengan deretan data rumit seolah keberadaan Tiana di sana hanyalah hiasan dinding. Tiana menelan ludah. Sikap dingin dan acuh tak acuh Leonel justru membuatnya merasa semakin terancam secara mental. Setiap kali matanya tak sengaja menyapu sosok pria itu, ada getaran aneh yang merambat di perutnya. Ia merasa panas, ada sensasi terangsang yang tertinggal di permukaan kulitnya, dan Tiana sangat membenci dirinya sendiri karena reaksi tubuhnya yang memalukan itu. Tiana! Dia pria b******k yang memaksamu! batinnya berusaha menyadarkan logika. Namun, bayangan tubuh kokoh dan aroma pria itu terus menari-nari di kepalanya, membuatnya sulit untuk tetap fokus membenci. "Ini ponselmu. Semuanya sudah selesai," ucap Leonel tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya. Ia meletakkan ponsel Tiana di pinggir meja dengan gerakan santai. Tiana mendekat dengan langkah ragu, menjaga jarak sejauh mungkin. Ia menyambar ponselnya dengan cepat, lalu menatap Leonel selama beberapa detik. Tiana segera membuang muka sebelum ia kembali terhipnotis oleh tatapan itu. "Apa aku boleh hubungi temanku? Papa, Mama, dan Kak Bian?" tanya Tiana dengan suara yang sedikit serak. Leonel hanya mengangguk pelan sekali, jarinya terus bergerak lincah di atas layar. "Hubungi siapa pun yang kamu mau. Enkripsinya sudah aktif, komunikasimu aman." Setelah mengatakan itu, Leonel bangkit dan berjalan keluar kamar tanpa sepatah kata pun lagi, meninggalkannya dalam keheningan yang janggal. Tiana tertegun, menatap pintu yang tertutup rapat. "Pria aneh gila, dia santai sekali." Ia merasa seolah Leonel sedang memainkan permainan psikologis dengannya, menunjukkan bahwa pria itu bisa mengendalikan hasrat dan emosinya kapan saja, sementara Tiana justru terjebak dalam rasa frustrasi dan gairah yang tidak sanggup ia akui. *** Tiana masih duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya yang terus bergetar karena pesan dari Ghea dan Sisil yang menanyakan kapan dia akan masuk kampus lagi. Meski pernikahan mereka baru lewat beberapa hari dan ia masih dalam masa libur pengantin baru yang dipaksakan, tugas-tugas kuliah semester lima mulai menumpuk di emailnya. Tiana menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk keluar dari kamar dan mencari Leonel. Ia menemukan pria itu di ruang kerja pribadinya yang berdinding kaca, masih fokus dengan deretan angka di layar monitor besar. "Leon," panggil Tiana pelan. Leonel tidak menoleh, namun suaranya terdengar tegas. "Masuk." Tiana melangkah masuk, menjaga jarak aman dari meja kerja pria itu. "Libur pernikahanku sudah selesai. Besok jadwal kuliahku padat dan aku punya banyak tugas yang harus diselesaikan di perpustakaan kampus. Apa ... apa aku sudah bisa kuliah lagi?" Leonel akhirnya mengalihkan pandangannya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, menatap Tiana dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tentu. Aku tidak pernah melarangmu kuliah. Pendidikanmu adalah aset yang penting." Tiana mendengus pelan mendengar kata aset lagi, namun ia merasa lega, Leon tidak melarangnya kuliah. "Oke, kalau begitu besok aku pergi dengan mobilku sendiri." "Tidak," potong Leonel cepat. "Kamu akan diantar jemput oleh sopir dan dua pengawal pribadi dengan mobil antipeluru. Mereka tidak akan masuk ke kelasmu, tapi mereka akan mengawasimu dari jarak sepuluh meter." "Jangan coba-kali menghilang dari pandangan mereka, atau aku akan menjemputmu sendiri dan memastikan kamu tidak akan pernah melihat gerbang kampus itu lagi." Tiana mengerutkan kening. "Sepuluh meter? Itu berlebihan, Leonel! Teman-temanku akan mengira aku membawa gerombolan sirkus!" "Pilihannya hanya itu, atau tetap di sini dan aku akan memanggil profesor ke mansion ini untuk mengajarimu secara privat," jawab Leonel final sambil kembali fokus pada layarnya. "Sialan!!!" umpat Tiana, pasrah. ** Begitu Tiana turun dari mobil hitam besar yang mengilap, Ghea dan Sisil sudah menunggu di depan lobi fakultas dengan wajah penuh rasa ingin tahu yang meledak-ledak. Dua pengawal berpakaian safari hitam berdiri tegak tak jauh dari mereka, membuat mahasiswa lain berbisik-bisik. "Gila! Na, lo beneran jadi Nyonya Besar sekarang ya? Itu pengawal apa model catwalk? Ganteng-ganteng banget!" seru Ghea sambil menyenggol lengan Tiana. "Diem deh, Ghe. Gue malu banget tau nggak!" bisik Tiana sambil menarik kedua temannya masuk ke dalam gedung. Sisil tertawa kecil, ia memperhatikan wajah Tiana dengan detil. "Tapi sumpah ya, aura lo beda. Lo keliatan... lebih berisi? Eh, atau jangan-jangan Leonel beneran sehebat yang kita gosipin kemarin di grup? Gimana servis suami jenius lo itu? Dingin-dingin empuk nggak?" Wajah Tiana seketika memerah hebat. Ingatan tentang pancuran air dan bibir Leonel yang brutal kembali menghantamnya. "Ghea! Sisil! Bisa nggak jangan bahas itu? Dia itu kaku, otoriter, dan nyebalin banget! Dia bahkan ngatur jarak pengawal gue harus sepuluh meter!" "Alah, protes lo!" ledek Ghea sambil tertawa. "Tapi jujur ya, kalau gue jadi lo, punya suami se-keren dan se-protektif itu, gue mah betah dikurung di mansion." Tiana tidak menggubris. "Lo liat deh foto Leonel yang kemarin sempet viral bentar sebelum dihapus, itu tatapannya kayak mau nerjang mangsa. Lo pasti diterjang habis-habisan kan semalem?" "Gue nggak diterjang! Gue ... gue benci dia!" seru Tiana, namun getaran aneh di perutnya kembali muncul saat ia mengingat bagaimana tubuhnya berkhianat di bawah kucuran air kemarin. "Tiati loh, Na, benci lama-lama jadi cinta," ucap Ghea meledek, kemudian temannya itu tertawa. Tiana berusaha fokus pada tumpukan buku di depannya, namun ledekan Ghea dan Sisil justru membuatnya semakin sulit melupakan sosok Leonel. "Nggak akan!" *** Setelah kepergian Tiana ke kampus pagi itu, suasana di ruang kerja Leonel yang biasanya hening dan penuh tekanan terasa berbeda. Pria itu masih duduk di kursi kebesarannya, namun untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun kariernya sebagai pemimpin dan pebisnis ulung, deretan angka di layar monitornya tidak lagi terasa menarik. Leonel menyandarkan punggungnya, memutar kursi menghadap dinding kaca yang menampilkan pemandangan kota. Ia menyesap kopi hitamnya, namun pikirannya justru melayang pada bagaimana wajah Tiana memerah saat mengumpat padanya tadi malam. Menghibur sekali, batin Leonel dengan senyum tipis yang nyaris tak kentara. Selama ini, Leonel memandang pernikahan hanya sebagai transaksi logika, sebuah aliansi antar keluarga besar untuk memperkuat posisi. Ia sudah siap menghadapi kehidupan rumah tangga yang kaku, penuh formalitas, dan membosankan itu. Namun, sosok Tiana yang liar, keras kepala, dan ekspresif justru menjadi hal yang paling menarik dalam hidupnya yang monoton. Ia teringat betapa mungilnya tubuh Tiana saat berada dalam kuasanya, namun memiliki keberanian sebesar singa untuk menantangnya. Ada rasa menggelitik di dadanya saat mengingat bagaimana Tiana mencoba bersikap tangguh padahal kedua kakinya gemetar. Bagi Leonel, memecahkan masalah atau memenangkan akuisisi perusahaan bernilai triliunan adalah hal yang mudah diprediksi. Namun, menebak apa yang akan dilakukan Tiana selanjutnya, apakah dia akan melempar bantal, menangis manja, atau justru mendengus kesal—adalah sebuah teka-teki yang jauh lebih istimewa. "Sepuluh meter, ya?" gumamnya sendiri. Ia tahu jarak itu berlebihan, tapi itu adalah bentuk kepemilikan. Ia ingin memastikan bahwa seluruh dunia tahu bahwa Tiana adalah miliknya yang paling berharga, sebuah aset yang warna-warninya kini menghiasi hidupnya yang kelabu. "Dia tak suka aku menyebutnya aset," ucap Leonel merasa terhibur. Pernikahan ini, yang awalnya ia pikir akan menjadi kerumitan administratif, ternyata berubah menjadi permainan yang sangat menghibur. Ia meraih ponselnya, membuka aplikasi pelacak yang terhubung dengan GPS mobil Tiana. Melihat titik merah itu bergerak menuju kampus memberinya sensasi kepuasan yang aneh. Nikmatilah duniamu sejenak, Tiana, pikir Leonel sambil menyesap kopinya lagi. Karna saat kamu pulang nanti, aku tidak akan membiarkanmu sedetik pun lepas dari pandanganku. Leonel merasa seolah ia baru saja mendapatkan mainan yang paling mahal, paling indah, dan paling sulit untuk ditaklukkan. Dan bagi pria sepertinya, proses penaklukan itu adalah bagian yang paling membuatnya kecanduan. Leonel memutar-mutar pena fountain di jemarinya, matanya menerawang jauh melampaui gedung-gedung pencakar langit. Memorinya mendadak terlempar pada sebuah potongan masa lalu. Sekitar delapan belas tahun yang lalu. Ia adalah seorang remaja laki-laki yang sudah dipaksa memahami taktik perang dan manajemen konflik. Saat itu, ia berdiri di sebuah taman privat keluarga besar, menatap sebuah kereta bayi mewah yang dijaga ketat. Di dalamnya, ada seorang bayi perempuan yang baru saja lahir ke dunia yang penuh kotoran ini. Tiana kecil. Leonel ingat betul bagaimana ia mengulurkan jari telunjuknya yang masih muda, dan bayi itu merespons dengan menggenggamnya kuat-kuat. Genggaman yang polos, namun bagi Leonel yang sudah dididik secara logis, itu adalah sebuah kontrak tanpa kata. Ia menarik sudut bibirnya, sebuah seringai yang mematikan muncul di wajah tampannya. "Secara biologis, kamu adalah makhluk yang rapuh sejak dalam kereta bayi itu," gumam Leonel pada kesunyian ruang kerjanya. "Tapi secara kalkulasi strategis, kamu adalah satu-satunya hal yang belum pernah bisa aku selesaikan sepenuhnya hingga hari ini." Leonel meletakkan cangkir kopinya, pikirannya mulai merangkai teori yang selalu menjadi landasannya dalam bertindak. Ia teringat betapa mungilnya jemari bayi itu dulu, yang kini telah tumbuh menjadi wanita keras kepala yang berani meneriakinya gila. "Bayi di dalam kereta itu sekarang telah menjadi seorang yang menarik, dan menggoda sekali." "Ini waktunya, Tiana. Teorinya sudah selesai dibuktikan. Sekarang, aku hanya perlu menikmati hasil dari kesabaranku yang panjang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD