Bab 9 - Suami Gila Yang Seksi Mematikan 🔥

1295 Words
"Sumpah ya, Tiana! Lo beneran kayak princess yang baru keluar dari istana," seru Ghea sambil menatap dua pria berbadan tegap yang berdiri kaku di depan pintu kantin, mata mereka terus mengawasi ke arah meja mereka. Bahkan sampai di kantin sekalipun. Tiana menghela napas berat, ia menenggelamkan wajahnya di atas meja kampus yang dingin. "Gue pengen mati aja, Ghe. Malu banget! Semua orang ngeliatin gue kayak gue abis korupsi uang negara sampai harus dikawal gitu." Sisil menyenggol bahu Tiana, matanya mengerling nakal. "Halah, malu apa malu? Tapi btw, Na ... itu bibir lo kenapa agak bengkak gitu? Digigit nyamuk mansion apa digigit serigala?" Tiana langsung menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya memerah sampai ke telinga. Ingatan tentang ciuman brutal Leonel di bawah pancuran air dingin itu mendadak terputar kembali di otaknya. Rasa panas yang aneh kembali menjalar ke area sensitifnya. "Apaan sih! Ini ... ini karena gue alergi kemarin!" bohong Tiana cepat. "Alergi apa alibi?" Ghea tertawa terbahak-bahak. "Na, jujur deh sama kita. Leonel De Luca itu aslinya gimana?" "Gimana apanya sih!" ketus Tiana. "Ya maksudnya, di foto sih mukanya dingin banget kayak kulkas dua pintu, tapi denger-denger cowok tipe gitu kalau di ranjang ... beuh, bisa bikin lo lupa nama sendiri." "Gue nggak lupa nama ya!" protes Tiana ketus. Teman Tiana tertawa geli melihat ekspresi Tiana yang panik. "Dia itu kaku banget, tahu nggak? Otoriter! Masa suhu air mandi gue diatur, makan gue diatur, bahkan ponsel gue diutak-atik sama dia. Gue berasa nggak punya privasi!" "Tapi dia ganteng banget, kan? Dan dia jagain lo banget kan?" Sisil menimpali dengan nada iri. "Lo tau nggak, anak-anak fakultas sebelah tadi pada heboh." "Heboh kenapa?" sahut Tiana. "Ya, heboh pas lihat foto Leonel yang bocor." "Nggak penting banget," kata Tiana. "Asli, walaupun nikahan lo itu privat gitu, tapi beritanya nyebar tau, Na," ucap Ghea. "Nyebar giman?" Tiana panik, dia tidak mau ada yang tahu kalau dirinya sudah menikah dengan pria segila Leonel Alpha De Luca. "Mereka tau desas-desus anak fakultas kita nikah, bisa jadi mulai menjurus ke lo." "Biarin aja, deh. Gue pusing," kata Tiana. "Ya emang, biarin aja, lagian harusnya bangga dong. Kalau gue jadi lo mah, gue pamerin deh suami gue ke orang-orang!" ceplos Ghea, Sisil tertawa mengangguk. "Bener tuh, setuju gue mah." Tiana terdiam. Ia ingin sekali bilang kalau Leonel itu monster, kalau Leonel itu pria mabuk yang sudah merobek bajunya di malam pertama. Namun mana mungkin dia bicara gamblang begitu, pasti memalukan. "Gue benci dia, sumpah," gumam Tiana, namun kali ini suaranya tidak seyakin biasanya. "Benci apa cinta? Hati-hati, Na. Beda tipis," ledek Ghea lagi. "Eh, liat tuh! Pengawal lo pada tegang gitu liat HP. Kayaknya Bos Besar lo lagi mantau lewat GPS ya?" Monster L : Fokus pada kuliahmu, Tiana. Jangan terlalu banyak bergosip dengan teman-temanmu yang berisik itu. Sopir akan menjemputmu lima menit lagi. Jangan terlambat. Tiana mendesis, "Tuh kan! Dia beneran robot! Dia tau apa yang gue lakuin sekarang!" "Sumpah lo?" sahut kedua teman Tiana berbarengan. ** Tiana turun dengan langkah gontai, kepalanya masih dipenuhi ledekan Ghea dan Sisil yang terus terngiang seperti kaset rusak. Ia hanya ingin segera masuk ke kamar, merebahkan diri, dan melupakan fakta bahwa tubuhnya terus bereaksi aneh setiap kali memikirkan suaminya. Namun, begitu ia melewati gerbang samping yang menuju ke arah taman dalam, langkahnya mendadak terkunci. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik. Di sana, di jalur lari yang mengitari air mancur marmer, Leonel sedang berlari jogging. Pria itu tidak memakai baju. Ia hanya mengenakan celana pendek olahraga berwarna hitam yang ketat. Kulitnya berkilat karena keringat di bawah sinar matahari sore, mempertegas setiap pahatan otot di d**a bidangnya yang keras. Otot perutnya bergerak ritmis seiring dengan napasnya yang teratur, dan urat-urat di lengan kekarnya menonjol setiap kali ia mengayunkan tangan. Leonel tampak sangat fokus, sepasang earphone putih menyumbat telinganya, membuatnya seolah berada di dunianya sendiri yang sangat disiplin dan maskulin. Tiana membeku. Ia merasa oksigen di sekitarnya mendadak menipis. Pandangannya tidak bisa beralih dari tetesan keringat yang mengalir turun dari leher Leonel, melewati sela-sela otot dadanya, hingga menghilang di balik karet celana pendeknya. Lutut Tiana benar-benar terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja berubah menjadi jeli. Ia terpaksa menyandarkan bahunya ke pilar besar di dekatnya karena merasa kakinya tidak akan sanggup lagi menopang berat tubuhnya. Sialan... kenapa dia harus terlihat semenggiurkan itu? batin Tiana frustrasi. Tiana ingin berbalik dan lari, tapi matanya berkhianat. Ia tetap diam di sana, terpaku, menelan ludah dengan susah payah sambil memperhatikan bagaimana otot paha Leonel yang kuat menegang setiap kali pria itu menapakkan kaki ke lantai. Ia merasa panas, rasa terangsang yang ia benci itu kini menyerangnya sepuluh kali lebih kuat. Tiba-tiba, Leonel melambatkan larinya. Ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan, lalu kepalanya menoleh tepat ke arah di mana Tiana berdiri. Leonel melepas salah satu earphone-nya. Matanya yang tajam mengunci pandangan Tiana yang masih tampak syok dan lemas. Sebuah seringai tipis, hampir tidak terlihat, muncul di sudut bibir pria itu. Ia tahu persis apa yang sedang dirasakan istrinya saat ini. "Sudah pulang, Tiana? Kenapa hanya berdiri di sana? Kamu terlihat seperti baru saja melihat hantu," ucap Leonel dengan suara baritonnya yang berat, masih sedikit terengah, yang justru terdengar sangat seksi di telinga Tiana. Tiana ingin menjawab, ingin memaki, atau setidaknya menunjukkan wajah kesal. Tapi yang bisa ia lakukan hanyalah diam mematung, mencengkeram tali tas kuliahnya dengan tangan gemetar, sementara otaknya menjerit karena pesona maskulin suaminya yang benar-benar tidak masuk akal. Tiana mengerjap, tersadar dari lamunannya saat menyadari Leonel sedang berjalan ke arahnya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia memaksakan kakinya bergerak. Ia tidak boleh terlihat lemah, apalagi di depan pria yang sangat ia benci itu. "Bukan urusan kamu! Dan jangan dekat-dekat, jaga jarak!" ketus Tiana sambil memalingkan muka, lalu ia berjalan setengah berlari masuk ke dalam mansion tanpa menoleh lagi. Begitu sampai di dalam kamar, Tiana langsung membanting pintu dan menguncinya. Ia menyandarkan punggungnya di daun pintu, tangannya meraba d**a kirinya yang berdegup sangat kencang, seolah jantungnya ingin melompat keluar. "Gila ... jantungku benar-benar mau copot," gumamnya dengan napas tersengal. Wajahnya terasa panas membara. Rasa penasaran yang terkutuk itu membuatnya tidak tahan untuk tidak mengintip. Tiana berjalan mengendap-endap menuju jendela besar yang menghadap ke arah taman. Dari balik tirai tipis, ia melihat Leonel telah berhenti berlari. Pria itu kini berdiri di dekat meja taman, meraih sebotol air mineral dingin. Tiana menelan ludah, matanya melotot tajam saat memperhatikan Leonel menenggak air itu dengan rakus. Air mengalir di sudut bibirnya, jatuh ke dadanya yang bidang, namun perhatian Tiana terpaku pada jakun Leonel yang bergerak naik-turun dengan sangat maskulin saat ia menelan air. "Sialan! Kenapa minum saja harus seseksi itu?" umpat Tiana sambil memejamkan mata erat-erat. Ia memukul keningnya sendiri. "Sadarlah Tiana! Dia itu monster! Kamu tidak waras, kamu benar-benar sudah gila!" Tiana segera menjauh dari jendela, melemparkan tas kuliahnya ke sembarang arah. Namun, ketenangannya kembali terusik saat ponsel di kantongnya berdenting berkali-kali. Ia meraih ponselnya dengan emosi yang masih meluap. Grup w******p-nya meledak. Ghea: WOY Tiana! Sumpah ini beneran suami lo kan? Gue dapet dari grup sebelah, ada yang diem-diem moto waktu dia lagi photoshoot atau apa gitu tahun lalu. Sisil: Gila... ini mah bukan manusia. Liat deh perutnya, Na! Itu sixpack-nya nyata banget! Tiana membuka foto yang dikirim Ghea dan matanya hampir keluar dari kelopak. Itu adalah foto Leonel yang hanya mengenakan celana dalam hitam bermerk terkenal. Otot paha yang kokoh, garis perut yang sempurna, dan segalanya terpampang jelas di sana. "ARGHHHH! GILA! KALIAN SEMUA GILA!" jerit Tiana frustrasi. Kenapa harus ada foto semacam itu sih, itu adalah penyiksaan bagi Tiana yang mati-matian menjaga kewarasannya agar tidak terhipnotis oleh pesona Leonel yang mematikan. Tanpa berpikir panjang, ia melempar ponselnya ke atas ranjang seolah benda itu adalah api yang membara. Ia mengacak rambutnya dengan frustrasi, merasa dunianya sudah tidak aman lagi karena bayangan Leonel kini benar-benar mengepungnya dari segala arah. "I hate you, Leonel!!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD