Pak Dzaki sudah menungguku dengan Seruni—kuda betina yang memang sangat cantik, yang tadi ia beritahukan. Posturnya tidak terlalu segagah Cruise tadi, tapi tetap saja tinggi dan besar. Pak Dzaki meminta seseorang menggantikan ia memegangi tali kekang Seruni sementara ia berjalan mendekatiku. Aku sudah siap dengan segala atribut aman berkuda, sudah persiapan pakai celana panjang juga. Pak Dzaki mengambilkan pelindung kepalanya, “jangan gugup, Btari...” “Ini pertama kali buatku, Pak.” Wajar saja aku gugup, "kuda lho Pak, hidup. Aku lebih siap naik motor pembalap sih..." Dia terkekeh dengar kejujuranku, "lebih seru menunggangi kuda dibanding motor. Nanti kamu akan suka, dan membenarkan ucapanku. Ada ikat rambut?” “Oh iya, ini.” Aku menunjukkan, melepas ikat rambut dari pergelangan ta

