“Dil, ada yang kamu rasa?” tanya Sea memastikan dengan ekspresi cemas. Menarik atensi Azizi pun Candani. Aku lebih dulu mengatur napas, dan tersenyum menenangkan “kontraksi palsu. Makin sering, sssthh duh!" Aku kembali merasakan perutku makin kencang. Ada yang berbeda, tapi aku sulit membedakannya. "Udah nggak apa-apa kok, hilang lagi." Kataku lagi. “Aa kapan cutinya?” “Lusa balik tugas, abis itu baru cuti... perkiraannya kalau tepat ya minggu depan.” Jelasku. Sea mengangguk, tadi dia sudah temani aku belanja kekurangan bayiku. Aku menoleh pada Candani, “temani Mbak ke kamar mandi yuk... ingin buang air kecil.” “Oh, ayo mbak!” Candani berdiri lebih dulu, lalu mengulurkan tangan. Aku berpegangan untuk berdiri. Kami pamit dulu ke Sea dan Azizi, menuju kamar mandi. “Mbak gam

