“Sudah kenyang sayang,” bisikku membuai lembut sisi wajah putriku, membenarkan letak selimutnya. Kedua tangannya mengepal dengan ujung kuku yang terlihat lentik. Belum dirapikan, menunggu acara pemberian namanya sekaligus syukuran dan akikah. “Pakaikan penutup tangannya ya,” Ibu mendekat sambil membawakan dua sarung tangan bayiku yang senada dengan pakaiannya. Aku mengangguk, “iya, bu.” Hati-hati Ibu memakaikannya, “dokter sekarang tuh apa-apa nggak boleh, beda sama dulu. Nggak boleh bedongan lah, duh.” Aku tahu perbedaan jaman Ibu dulu dan sekarang, “pasti sudah melalui pengamatan, bu.” “Iya, Ibu patuh saja. Terpenting incu-incu Ibu sehat.” Angguknya kemudian mengambil Rara, “sudah kenyang ya incu geulis Nini...” Kami sudah pulang ke rumah, hanya dua hari di rumah sakit meliha

