Terkenang Selamanya

2006 Words

Saat kakiku tidak sengaja bergerak, mengenai sesuatu yang menonjol antara pangkal pahanya, aku melotot dengan wajah terkejut, “Aa, uhm itu...” “Iya, sudah bereaksi... padahal baru cium-cium kamu saja,” katanya tanpa malu. Dia terkekeh, “kalau sekarang, Ibu atau Al pasti keburu panggil... jamnya juga tanggung, kita mandi... dan salat sama-sama lai ya, Aa enggak akan ke masjid dulu. Mau lima waktu pertama sama kamu.” Aku mengangguk. Saat kupikir dia akan menyingkir. Justru tetap setengah menindihku lagi, “aku enggak mau menunda, kita akan menyempurnakan pernikahan malam ini juga.” Aku menelan ludahku susah payah dengan gugup, tahu maksudnya. Memang rasanya siap tidak siap, malam ini akan jadi malam pengantin kami. Baru membayangkan saja, termasuk efek ciumannya yang baru saja, buatku b

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD