Dia memberi senyum yang lebar dan terus menatap lekat. Beberapa saat, kami kembali menyalami tamu lagi. Nyatanya, walau hanya seratus undangan yang disebar, yang datang ada sekitar tiga ratus tamu undangan. Terutama dari teman-teman Aa di maskapai, diwakilkan datang. Termasuk ada Fadhly, temannya. “Pas bertemu di Bandara, sudah feeling sih pasti ada sesuatu, apalagi Athaar kelihatan banget posesif, diminta nomor kamu saja enggak ngasih! Ya, congrast bro!” ujarnya sesaat baru menyalami dan memberi pelukan ke Athaar. Mataku menatap setiap hal di acara ini, keluargaku berkumpul bahagia, Candani bahkan seperti tidak henti-hentinya tersenyum karna memang hari ini bukan hanya aku yang menantikan, dia pun, lalu Ibu dan Sea pun. Tempat, acaranya, dekorasinya memenuhi lebih dari yang kuharapkan

