Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Di atas papan catur, Lorenzo baru saja memakan kuda Lucas ketika ponsel Maxim bergetar sekali. Bukan nada biasa. Bukan pesan rutin. Nada prioritas. Maxim tidak langsung melihatnya. Ia menunggu Lucas menyelesaikan langkahnya. “Skak,” kata Lorenzo puas. Lucas mengerutkan kening. “Belum. Aku masih punya benteng.” Maxim akhirnya melirik layar. Satu pesan. Dari Jack. Bea cukai mengubah status pemeriksaan. Bukan administratif. Mereka menahan seluruh kontainer. Ada instruksi langsung dari kantor pusat. Maxim tidak bergerak. Tapi sesuatu dalam tatapannya berubah. Gwen melihatnya. Ia tidak bertanya. Ia hanya menunggu. Lucas memindahkan bentengnya dengan dramatis. “Sekarang giliran Kakek!!" Lorenzo tersenyum. “Kau terlalu percaya diri.” Maxi

