Bab 27. Perasaan Itu

1247 Words

Vanya duduk di tepi ranjang, hanya mengenakan jubah mandi yang longgar. Ia meringis pelan saat mencoba meraih botol salep di atas nakas. Tubuhnya benar-benar terasa remuk, dan memar kebiruan di bahu serta lehernya menjadi saksi betapa brutalnya hukuman Bumi semalam. Tiba-tiba, tangan besar yang hangat mengambil botol salep itu dari jemarinya. Vanya mendongak, menemukan Bumi sudah berlutut di depannya. Pria itu sudah rapi dengan kemeja hitamnya, tapi wajahnya tidak sedingin tadi. Ada guratan penyesalan yang samar di sudut matanya. "Sini. Biar saya yang obati," ucap Bumi rendah, hampir seperti bisikan. Vanya mendengus, mencoba memalingkan wajah. "Nggak usah. Aku bisa sendiri. Lagipula, ini kan kerjaan kamu." Bumi tidak membantah. Ia dengan lembut menarik kerah jubah Vanya hingga bahu put

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD