Bab 26. Amarah Bumi

1425 Words

Suara Bumi yang rendah dan tajam itu seketika membungkam hiruk-pikuk musik jazz di bar tersebut. Vanya merasa seluruh persendiannya meluruh. Ia tidak berani menoleh, namun ia bisa merasakan kehadiran Bumi yang berdiri kaku tepat di belakang punggungnya. Aura yang dipancarkan pria itu begitu gelap, lebih dingin daripada es di dalam gelas martininya. Bumi melangkah maju, perlahan, hingga ia berdiri tepat di antara Vanya dan Elran. Mata elangnya yang biasanya tenang kini berkilat merah, menatap Vanya dengan luka yang begitu dalam, sebelum akhirnya beralih pada Elran dengan sorot membunuh. "Nona, saya tanya sekali lagi," suara Bumi terdengar seperti geraman harimau yang terluka. "Itukah alasan Anda melarang saya ikut? Karena saya hanya... alat pemuas?" Vanya mencengkeram pinggiran meja kayu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD