Malam di Uluwatu seharusnya menjadi waktu yang menenangkan. Suara deburan ombak yang menghantam tebing di bawah resor mewah itu terdengar cukup berisik. Namun, di dalam resor yang ditempati Vanya, udara terasa begitu tipis, seolah oksigen telah habis disedot oleh ketegangan yang tak kasat mata. Vanya berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang tampak asing. Ia baru saja selesai mandi, butiran air masih tersisa di pundaknya yang putih. Ia memilih gaun malam berwarna hitam pekat dengan potongan backless yang mengekspos lekuk punggungnya yang indah. Ia sengaja memoles lipstik merah yang sangat kontras dengan wajahnya yang pucat. Tangannya gemetar saat memegang botol parfum. Vanya menatap jantungnya di balik cermin. “Berdetaklah sedikit lebih lama lagi,” bisiknya dalam hat

