Ayushita melangkah cepat ke arah mereka, sepatu stiletto-nya berketuk keras di lantai marmer. “Jadi benar kamu, Indira? Aku nggak salah lihat, kan? Kamu ngapain di sini?” Indira menarik napas panjang. Ia sudah tahu nada itu terdengar meremehkan. Seperti watak Ayusita sejak dulu. Padahal, gadis itu bisa hidup enak karena mamanya menikah dengan papanya Indira. Namun, kali ini tak ada salahnya Indira tidak lagi diam jika diinjak-injak oleh saudara tirinya. “Saya lagi beli cincin,” jawab Indira datar. “Beli cincin? Di tempat semahal ini? Kamu?” Ayushita menatap Indira dari atas sampai bawah, seolah tidak percaya bahwa kakak tiri yang sudah terusir dari keluarga Akbar, bisa berada di toko eksklusif seperti ini. Indira memutar bola matanya. “Kenapa tidak?” “Ya ampun, jangan bilang kamu sek

