Arman melangkah memasuki kantin dengan langkah mantap, namun matanya jelas gelisah. Ia berdiri beberapa detik di dekat pintu masuk, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ia celingukan mencari-cari keberadaan sosok Indira yang tak terlihat oleh pandangan matanya. Meja pinggir jendela ia lirik, deretan kursi tengah ia amati, sampai-sampai ia mencondongkan sedikit tubuh seperti ingin melihat lebih jauh. “Dia di mana?” gumam Arman pelan, hampir tak terdengar. Hasan yang sejak tadi berjalan setengah berlari di belakangnya mengerutkan kening. “Cari siapa, Pak?” tanyanya polos. Arman terkejut, lalu cepat menggeleng. “Nggak. Bukan siapa-siapa. Buruan sana kamu pesan makanan.” “Bapak mau makan apa?” “Samakan saja dengan punyamu.” “Baik, Pak.” Hasan bergegas ke antrean sambil masih bi

