72. Kaburnya Adrian

1988 Words

Di kediaman keluarga Akbar pagi itu terasa sunyi. Hal yang sudah biasa terjadi sebab di rumah besar itu hanya ada tiga orang penghuni utama dan juga para pelayan. Malinda turun ke ruang makan dengan langkah cepat, wajahnya tegang sejak membuka mata. Semalam Adrian tidak pulang, dan itu bukan pertama kalinya. Namun entah mengapa kali ini perasaannya berbeda, tidak sekadar kesal, melainkan gelisah yang menyesakkan d**a. “Adrian!” panggil Malinda setengah berteriak, matanya menyapu ruang makan yang kosong. Tak ada jawaban. Pelayan rumah saling pandang, lalu salah satu memberanikan diri mendekat. “Tuan Adrian belum pulang, Bu, sejak kemarin.” Malinda mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras. Ia berjalan mondar-mandir, pikirannya dipenuhi potongan kejadian yang akhir-akhir ini terasa semakin

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD