Malinda benar-benar kehilangan kendali sejak hari di mana Indira menginjakkan kaki kembali ke Akbar Group. Bukan hanya harga dirinya yang tercabik, tetapi juga rasa aman yang selama ini ia bangun di atas kebohongan dan manipulasi perlahan runtuh. Setiap sudut rumah terasa menyesakkan, seolah dinding-dindingnya ikut menghakimi. Ia baru saja menutup telepon dari orang kepercayaannya dengan tangan gemetar. “Bu, hampir bisa dipastikan Tuan Adrian sudah keluar negeri. Jejak terakhirnya terdeteksi di bandara, transaksi terakhir menggunakan kartu internasional.” Telepon itu terlepas dari genggaman Malinda. Tubuhnya terhuyung sebelum akhirnya terduduk di tepi ranjang. Napasnya memburu, dadanya naik turun tak beraturan. “b******n,” desisnya lirih, penuh amarah dan kepanikan. Adrian benar-benar

