Indira mengikuti Arman, keduanya pindah ke ruang tengah. Sofa abu-abu itu terasa terlalu besar namun sekaligus terlalu sempit ketika mereka duduk berdampingan. Indira mengambil tempat paling pinggir, tapi Arman juga duduk dekat, seolah tak memberi celah untuknya bergerak jauh. Pria itu menutup laptopnya dan menoleh. “In,” panggilnya pelan. “Ya, Pak? ada apa?” “Bik Ningsih. Dia sudah tahu kamu tinggal di sini?” Indira diam sebentar, memainkan gagang cangkirnya. “Belum.” “Kenapa belum?” tanya Arman lembut, tidak menghakimi, hanya ingin tahu. Indira mengingat wajah perempuan paruh baya itu, orang yang paling setia merawatnya sejak ia kecil, orang yang sudah seperti ibu sendiri sejak almarhum mamanya meninggal. “Saya belum sempat menelepon Bik Ningsih,” jawabnya perlahan. Arman mengangg

