Arman membuka pintu apartemennya sambil menenteng koper kecil berisi barang-barang milik Indira. Wanita itu hanya bisa mengikuti dari belakang, menatap ruangan yang kini entah bagaimana akan menjadi tempat tinggal barunya. Hatinya berdebar campur aneh: canggung, gugup, tapi juga sedikit lega. Setidaknya, kini hubungan mereka mulai menemukan bentuk yang lebih jelas meskipun masih terasa kikuk. “Masuk, In,” ujar Arman pelan. Indira melangkah ke dalam. Apartemen itu luas, rapi, dan wangi seperti baru saja dibersihkan. Setiap detailnya mencerminkan karakter Arman: simpel, bersih, dan tidak banyak barang berserakan. Arman membawa barang-barang Indira masuk ke kamar yang akan ditempati wanita itu. “Baju kamu nanti simpan di lemari sana,” katanya sambil menunjuk lemari kayu besar. “Masih koson

