Indira merapikan map di mejanya dengan gerakan terburu-buru. Sejak percakapannya dengan Sela beberapa jam lalu, kepalanya tidak berhenti dipenuhi rasa cemas. Bukan hanya soal proyek, bukan hanya soal Lidya yang tadi menatapnya seolah ingin menelan dirinya hidup-hidup, tapi terutama karena ... Arman. Satu hari ini saja rasanya jantungnya sudah naik turun seperti roller coaster. Indira benar-benar ingin pulang lebih awal. Tujuannya apalagi jika bukan untuk menghindari Arman. Ada rasa enggan pulang ke apartemen pria itu untuk saat ini. “Aku pulang dulu, Sel,” ucap Indira buru-buru sambil mengambil tas kerjanya. Sela yang masih sibuk mengetik menoleh cepat. “Loh, kok buru-buru banget? Mukamu pucat, In. Kamu kenapa?” Indira memaksakan senyum. “Cuma capek.” “Kalau capek jangan dipaksain k

