Di toko lain kami menemukan banyak barang-barang absurd. Jam rusak. Radio tua. Kaset. Poster lawas. Tamiya tempo dulu. Telpon jadul yang sudah tak berfungsi. Dan benda-benda rongsok zaman purba lainnya. “Akang!” Aku mendekatinya. Ia tengah sibuk melihat-lihat tumpukan postcard. “Jakarta 1983! Pas Papi dan Mami lahir,” ujarnya. Ia lalu meletakkan kembali kartu di tangannya. “Nda mau beli radio bekas aja ah.” “Buat apa?” tanyaku. “Pajangan,” jawabnya singkat. Saat ia bergeser ke deretan radio, aku mengambil postcard yang tak jadi ia ambil tadi. Kubeli diam-diam. *** Lalu... mencoba makanan yang masih asing. Kerak telor. Kue rangi. Es podeng. Ongol-ongol. Amanda awalnya skeptis. Ia benar-benar tak yakin dengan rasa dan keamanan makanan-makanan itu. “Akang?” Ia berbisik

