“Ada Bang Eldra,” ujar Amanda saat melihat sebuah mobil yang ia kenali terparkir di halaman. Aku memarkir mobilku, bersebelahan dengan sedan Eldra. “Bener nggak apa-apa parkir di sini, Nda?” “Iya nggak apa-apa.” “Gede ya parkiran rumah Nda.” “Biar kalau pas lagi ngumpul, nggak bikin tetangga kesel, Kang.” Aku mengangguk-angguk. “Perbuatan tidak menyenangkan ya?” “Nah!” Belum sempat mesin kumatikan, pintu utama terbuka. Aku langsung menebak siapa yang akan keluar. Dalam pikiran saja. Dan seperti yang kuduga... Papi yang muncul. Berdiri. Bersedekap. Ekspresi kesal. Mata mengawasi ‘terdakwa.’ Aku menelan ludah. Amanda malah terkekeh. “Beginilah kalau punya cinta pertama yang cemburuan banget,” lirihnya. Aku mematikan mesin. Turun. Membukakan pintu untuknya. Belum sempat ak

