BAB 80-2

1182 Words

Kali ini… erangannya jauh berkurang. “Rontgen bahu sebentar, Dok,” ujar Andi seraya memposisikan portable X-ray. “Oke,” sahutku, lalu menyingkir. Setelah selesai dan alat disingkirkan, aku kembali dengan tugasku. “Ini, Ar?” dr. Sean—seorang spesialis ortopedi—berdiri di depan ranjang pasien. “Iya, Dok,” seru Arkan. “Bahu kiri.” Beliau mendekat, memegang lengan pasien. Meraba. Lalu mendecak. “Anterior dislocation,” gumamnya. “Rontgen?” Andi menyerahkan tablet ke beliau. dr. Sean fokus sejenak, memastikan neurovaskular aman. “Dokter gigi?” tanyanya padaku. “Arial atau Iyal, Dok,” sahutku. “Oke. Saya reposisi bahunya sebentar.” Aku mengangguk. Saat beliau menyentuh bahu, pasien panik lagi. “Dok! Dok! Hangan, Dok! Hakit!” “Tenang, Pak,” jawab dr. Sean. Ia lalu menoleh ke Andi. “A

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD