BAB 81

1223 Words

Aku meneruskan pesan dari kepolisian itu ke nomor Papi Ian. Lalu menunggu reaksinya. Tak pakai lama, beliau menelponku. “Assalamu’alaikum, Pi.” Aku menyapa lebih dulu. “Wa’alaikummussalam,” jawab beliau, nada suaranya terdengar serius. “Kapan kamu terima pesan itu?” “Tadi siang, Pi. Tapi saya baru baca sekarang. Seharian di IGD, lanjut praktik.” Hening menjeda sejenak. “Kamu di mana?” “Masih di rumah sakit, Pi.” “Jangan pulang dulu.” Punggungku menegak. “Kenapa, Pi?” “Papi di tempatnya Eldra. Papi jemput kamu sekarang.” Aku sontak berdiri. “Sekarang, Pi?” “Kenapa? Masih ada yang mau dikerjain?” “Nggak, Pi. Tadi kan mulai lebih cepat.” “Oke! Langsung ke lobi ya?” “Iya, Pi.” Aku mengusap tengkukku yang terasa tegang. “Kita ke Polres malam ini,” pungkas beliau. *** Lima m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD