BAB 82

1588 Words

“Ayo, Yal. Kita pulang.” Papi melangkah lebih dulu. Aku menghela napas panjang, baru menyusul langkah beliau. Kepalaku masih penuh. Tentang Felicia Azure, ICU, infeksinya yang menyebar, juga dugaan malpraktik yang kulakukan. “Pi?”. “Hmm?” “Iyal naik taksi aja.” Langkah beliau tak berhenti. “Kasihan Papi jadi makin jauh ke Cibubur kalau nganter Iyal dulu.” Beliau mendengus. “Pulang itu pilihan utama. Tapi, kalau capek banget, pilihan lainnya juga ada. Temen Papi banyak, hotel juga banyak, tidur di rumahmu juga bisa. Don’t worry.” Aku mengangguk pelan. “Dan biar kamu nggak bengong sendirian di taksi,” sambung Papi. “Atau kamu justru kepingin bengong sendirian?” “Nggak, Pi,” sahutku otomatis. Kian mendekat ke MPV Papi, aku sadar kami tak sendiri. Dua orang anak buah Papi muncul d

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD