“Oke,” ujar Mama akhirnya. Aku tertegun. “Nanti Mama cek. Kayaknya ada yang bulan ini mau keluar, biar Mama bilang ke yang ngurus untuk nggak terima penyewa baru,” lanjut beliau, merujuk ke sebuah bangunan yang beliau jadikan kosan modern di kawasan Cipete. Berarti... Mama tahu alasanku tak langsung kembali ke rumah. Dan beliau memahami itu, setidaknya berusaha. “Maafin Iyal, Ma,” lirihku kemudian, sengau. “Yang penting Iyal nggak jauh dari Mama dan Papa. Kapan pun kami kangen, pengen peluk Iyal, kami bisa datang,” tanggap Mama. “Bukannya Iyal nggak mau pulang...“ “Mama ngerti, sayang. Jangan merasa bersalah hanya karena Iyal butuh waktu lebih. Oke?” Tak perlu kusebut nama sosok yang sama-sama kami rindukan. Adikku. Rumah kami… masih terlalu penuh dengan kenangan tentangnya. Set

