“Oke,” jawabku akhirnya. “Empat kali.” Aster membelalak. “Tapi, jangan terlalu berharap. Aku nggak mau janjiin kamu apa-apa,” lanjutku. Aster tersenyum. “Iya. Itu pun sudah cukup.” Aku mengangguk. “Satu lagi, Arial.” “Apa?” “Aster. Panggil aku Aster, nggak usah pakai titel kecuali di tempat dan suasana kerja.” “Oke...” jawabku. “Aster.” *** Tujuh minggu dan tiga kali kencan berjalan lebih baik dari yang aku bayangkan. Meski tak sampai membuatku berlari ke tempat janji temu kami. Meski tak sampai membuatku bolak-balik memeriksa ponsel karena berharap ada pesan yang ia kirimkan. Meski tak pula membuat jantungku berdebar tak keruan. Namun, aku tak menampik jika kedekatan ini cukup membuatku nyaman. Aster ternyata memiliki sisi-sisi yang selama ini luput dari perhatianku. Atau m

