BAB 50-3

626 Words

Amanda mengerjap. “Kok bisa?” “Hmm... pas aku mau pulang, dia juga keluar dari restoran samping,” jawabku. “Terus?” “Gitulah... ngoceh nggak jelas.” “Dia?” “Iya, Nda.” “Ngomong apa?” tanya Mami. “Intinya saya dan keluarga keterlaluan karena nggak puas sama hasil sidang dan malah nyeret perusahaannya ke pidana korporasi, padahal Om Bima lagi difitnah di kasus korupsi,” jelasku. “Fitnah apaan,” sahut Papi. Aku menghempaskan napas. “Dia juga bilang… saya nggak paham konsep takdir. Termasuk kecelakaan itu.” Tanganku otomatis mengepal. “Harusnya saya dan keluarga terima, kan sudah dapat kompensasi juga.” Om Dirga merangkulku, menepuk-nepuk bahuku. “Waktu dekat sama dia, nggak tau kalau dia ada gangguan psikis?” Ya, tentu saja, meski bukan keseluruhan, Om Dirga pasti sudah mendengar s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD