BAB 87

2026 Words

“Kita ke sky garden aja, Akang,” pintaku setelah urusan Kang Juno beres. Papi masih tertahan di kantor legal. Ada Bang Bedul juga tadi. Sepertinya tak hanya mengurus kasus isu malpraktik, tapi juga mengusut kecelakaan Kang Juno yang terasa janggal. “Bilang dulu sama Papi, Nda,” ujar Kang Iyal. “Sudah kok,” sahutku sambil memperlihatkan isi chat-ku dengan Papi. Ia mengangguk. Kami berjalan beriringan. Menyusuri koridor, masuk ke lift, lalu bergandengan di selasar menuju taman di lantai tertinggi rumah sakit. Malam sudah lebih lengang. Suara langkah kaki tak lagi sesibuk sore tadi. Hanya sesekali perawat lewat, atau suara roda brankar yang terdengar jauh. “Nda mau minum apa?” tanya Kang Iyal di depan vending machine. “Itu, kopinya Papa Ga,” jawabku. “Sudah malam masih minum kopi?”

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD