“Objection, Your Honor!” Suara Alya menggema di ruang kelas simulasi. Lantang dan dramatis alias lebay. Malah mirip orang yang sedang ikut audisi drama pengadilan, bukan moot court. Dosen kami, Bu Renata, menatapnya dari balik kacamata tipis. “Saudari Alya,” ucap beliau, “ini persidangan perdata, bukan episode terakhir serial hukum.” Teman-temanku yang lain kompak menahan tawa. Aku spontan menunduk sambil pura-pura mencatat, padahal bahuku sudah bergetar menahan pecahnya tawa. Alya, yang berdiri sebagai kuasa tergugat, kembali fokus ke perannya. Ia menurunkan volume suaranya. “Baik, Bu. Maksud saya… keberatan, Yang Mulia.” “That’s better.” Bu Renata mengetuk meja dengan ujung pena. “Lanjutkan.” Aku duduk di sisi penggugat bersama Devi dan dua orang lain dari timku. Di hadapan kami
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


