Malam sudah semakin larut ketika akhirnya aku meminjam salah satu ruang observasi dokter untuk beristirahat sementara. Tak mungkin aku tetap menguasai salah satu ranjang di IGD sementara pasien datang silih berganti. Tanganku masih berdenyut dan tak nyamannya menjalar ke seluruh tubuh. Namun setidaknya emosiku sudah jauh lebih stabil dibanding beberapa jam lalu. Amanda menemaniku sejak tadi. Sesekali mengecek balutan di tanganku, seolah khawatir tiba-tiba berdarah lagi atau bengkaknya semakin jadi. Aku malah geli sendiri. “Akang teh bukan pasien kritis, Nda,” godaku. Amanda memberengut. “Kritis mah nggak, cuma khawatir lukanya ada pengaruh setan aja, secara tadi ngamuknya kayak orang kesurupan.” Aku tersenyum. “Pengen cium ih.” “Nggak boleh, Akang. Nanti ketahuan lagi.” Aku malah

