Suara monitor terdengar dari balik tirai. Bip… Bip… Bip… Bukan... bukan monitor milik penjahat yang kupukuli tadi. Bukan juga milikku. Aku sendiri duduk di atas ranjang tindakan IGD dengan tubuh sedikit membungkuk. Sementara itu, dr. Rozi berdiri di depanku, fokus memperhatikan tangan kananku yang berlumuran antiseptik. Perihnya mulai terasa sekarang. Bukan nyeri tulang. Bukan juga nyeri sendi. Rasanya seperti sensasi panas menyengat di kulit yang robek dan memar. “Untung buku-buku jari doang,” gumam dr. Rozi sambil membersihkan darah kering di dekat ruas tanganku. “Nggak untung juga, Dok,” bantah Amanda. dr. Rozi menoleh, mencengir singkat, lalu kembali menatap tanganku. “Kalau sampai metacarpalnya retak, nangis dah poli dental.” Aku diam saja. Masih menatap kosong. Kepala

