Alvaro melangkah masuk ke kamar dengan langkah ringan. Matanya langsung menangkap sosok Arielle yang berbaring di ranjang, tubuhnya terlentang tenang, kelopak matanya terpejam rapat. Dari sudut bibirnya, ia bisa membaca gerakan napas yang sedikit terburu, tanda jelas bahwa perempuan itu tidak benar-benar tidur. “Pura-pura lagi,” gumam Alvaro sambil menyeringai kecil. Ia mendekat, duduk di tepi ranjang, lalu dengan tiba-tiba jemarinya bergerak ke sisi tubuh Arielle. Sentuhan nakal itu membuat Arielle meringis dan menahan tawa. “Al, jangan. Jangan di sana,” suaranya tercekat di antara rengekan kecil dan tawa yang tak terbendung. “Geli sekali.” Alvaro terkekeh rendah, menikmati wajah istrinya yang memerah. Ia menunduk, menangkap bibir Arielle dalam kecupan singkat, lalu mengusap pipinya d

