⚠️ Panggung Politik, Panggung Kekacauan ⚠️

1224 Words

Arielle masih terperangkap dalam pusaran pikirannya sendiri, bayangan tentang pria bertopeng hitam itu menari di kepalanya. Baru saja ia hendak mencari celah untuk bernapas lebih lega, tubuhnya langsung ditarik ke dalam pelukan Alvaro. “Aku menemukannya,” suara Alvaro berat, penuh ketegangan sekaligus lega. Tangan besarnya mengelus kepala Arielle, lalu keningnya diciumi berkali-kali, seolah ingin memastikan istrinya benar-benar ada di hadapannya. “Kau akhirnya kutemukan,” ucapnya lagi. Arielle tersenyum samar, sedikit lega. “Tadi aku—” Alvaro segera memotongnya, menempelkan bibir ke kening istrinya sekali lagi. “Tidak perlu. Tidak apa-apa. Kita akan segera pergi dari sini, situasinya tidak kondusif.” Matteo muncul dengan wajah tegang. Ia melangkah cepat ke arah mereka, tubuhnya siap m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD