Reina duduk di ranjang dengan wajah masam. Tangannya yang diperban terasa nyeri setiap kali bergerak. Ia mendesis marah, menendang selimut ke lantai. “Kenapa harus di lengan! Menyebalkan. Aku jadi tidak bisa bebas bergerak,” rutuknya. Matteo yang duduk di kursi tak jauh dari ranjang, hanya menoleh sekilas. Matanya menajam, penuh peringatan. “Jangan berisik.” Reina melotot. “Apa katamu? Aku yang terluka, dan kau malah menyuruhku diam?” Matteo tidak menjawab. Jemarinya sibuk menari di atas ponsel, fokus seolah sedang mengendalikan sesuatu yang penting. Reina berdecih, rasa kesalnya makin menjadi. “Kalau kau hanya ingin main dengan benda itu, sebaiknya keluar saja dari sini. Membosankan melihatmu duduk seperti patung,” sindirnya. Tiba-tiba Matteo menghentikan gerakan jarinya. Bahunya me

