Malam itu, kamar Sandra terasa sempit meski ukurannya tidak berubah. Lampu meja belajarnya menyala, tapi buku - buku di atas meja dibiarkan tertutup. Ponselnya tergeletak di samping bantal, layar gelap, namun pikirannya riuh. Sandra mondar - mandir dari ujung kamar ke depan cermin. Tangannya berkali - kali menyibakkan rambut dengan gerakan asal, rambutnya memang dibiarkan tergerai karena masih lembab. Bayangan dirinya di cermin menatap balik, wajah yang selalu dipuji orang - orang, wajah yang sejak kecil membuatnya terbiasa diperhatikan. "Kenapa dia kayak nggak peduli sih?"gumamnya pelan. Bayangan Arsya siang tadi terlintas lagi. Cara pacarnya itu menjawab datar, cara dia pergi tanpa menoleh, seolah rasa kesalnya tidak penting. Bukan itu yang Sandra harapkan. Ia ingin Arsya mengejar, me

